Pengantar Kepada Lagu-lagu Pengalaman

July 4th, 2008 by wonderguitar

oleh: William Blake & Nosa Normanda

Dengarlah suara sang penyair
Yang melihat masa kini, masa depan, dan masa lalu
Yang telinganya mendengar kata-kata kudus
Yang mengendap di antara pohon-pohon purba

Sang Penyair
memanggil jiwa-jiwa pendosa
dan menangis dalam embun malam

Sang Penyair
Yang dapat menguasai kutub-kutub bintang,
dan jatuhlah, jatuhlah cahaya membaharu!

O, Bumi! O, Bumi kembali!
Terbit keluar dari rumput basah;
Malam telah terpakai,
dan pagi,
pagi muncul dari dengkuran orang-orang

"Jangan melihat ke belakang,
kenapa kau berpaling?
Lantai berbintang
pantai berpeluh
telah diberikan padamu sampai akhir hari…"

Frankenstein Di Dalam Hatiku Adalah Buatanmu!

July 4th, 2008 by wonderguitar

Ketika dengan seluruh laramu
    kau jahit bagian-bagian tubuhnya
dengan seluruh energimu
    kau sempurnakan jiwanya
dengan seluruh cintamu
    kau hidupkan ia

Kini ia begitu besar, kuat
    dan buruk rupa
ia polos, padamu terikat
    dengan seluruh cinta

Lalu kau lari daripadanya!?

Betapa kau adalah tuhan
yang menafikan ciptaannya

dan kini,
Frankenstein di dalam hatiku menangis
kini
ia mengamuk di nerakanya

"Pergilah kau tuhanku, kasihku
dan aku akan semakin dekat denganmu
untuk meminta penyembuh atas sepi yang kau beri

jangankan hanya di bumi,
hingga hilang menjelang
aku akan datang!"

Antara Tanah Liat dan Batu Kali

July 4th, 2008 by wonderguitar

Cinta tidaklah memuaskan dirinya sendiri
atau mengasihi diri sendiri
Cinta memberikan ruang pada yang dicinta
& membuat surga dalam keputusasaan neraka

Keliatan tanah membentuk kemanusiaan
rela terbentuk dan hilang oleh alam

Cinta hanya ingin memuaskan dirinya sendiri
untuk mengikat orang lain demi kesenangan pribadi
bahagia atas keterbatasan yang dicintai
dan membangun neraka atas nama surga

Kekerasan tersapu air dan menjadi bercahaya
licin, menjebak, dan membawa kekerasan

kita adalah daun yang terbawa di antara
Tanah liat dan batu kali

Lolongan Mantra

July 4th, 2008 by wonderguitar

Kami memanggil kejahatan yang menyekam mengeram malam
Bangunlah dari tidurmu dan puaskan dahaga kami
akan kekuatan darah, cinta

darah

dengan cinta kami memberi
dan dengan darah
kami
hidup

Helvellyn

July 4th, 2008 by wonderguitar

Di antara hutan purbanya
adalah kesetiaan yang paling dalam

Perempuan,
ketika kau bersemayam
aku akan menemanimu
menjadi satu-satunya untukm

Hingga suatu hari
patungku kan terpahat di sebelah nisanmu

di Helvellyn
kau kujaga
hingga ajalku datang menjelang

<dan anjing itu tertidur di sebelah nisan tuannya>

Kematian Melankolis Bocah Kerang

March 29th, 2008 by wonderguitar

.
Tim Burton*
.
Si Pria melamar di Padang Pasir,
mereka menikah di pesisir

sembillan hari mereka berbulan madu
berdua di kepulauan kapri
.
Mereka selalu menyantap makanan lezat—
kukusan harum kerang dan ikan-ikan.
Dan saat suami menghabiskan supnya
dalam hati, istrinya memohon.
.
Permohonannya menjadi kenyataan—ia melahirkan seorang anak.
Tetapi apa anaknya manusia?
Yah,
mungkin saja.
.
Sepuluh jari tangan dan jari kaki,
Ia punya mulut dan mata.
Bisa mendengar bisa merasa
Tapi biasa?
Tidak juga.
Kelahiran aneh ini, penyakit, wabah,
adalah awal dan akhir dari doa-doa mereka.
.
Istri berteriak pada dokter:
“Ia tak mungkin anakku.
Baunya seperti laut, rumput laut dan air garam.”
.
“Anda harusnya merasa beruntung, karena baru minggu lalu,
saya menangani kelahiran bayi perempuan dengan tiga telinga dan sebuah paruh.
Kalau anak anda setengah kerang
anda  tidak bisa menyalahkan saya.
…apa anda pernah mempertimbangkan,
rumah kecil di pinggir laut?”
.
Tidak tahu harus menamainya apa,
mereka hanya memanggilnya Sam
atau, kadang,
“makhluk itu yang mirip tiram.”
.
Semua orang berandai-andai, tapi tak ada yang tahu,
Kapan bocah kerang akan keluar dari cangkangnya?
.
Saat anak-anak Thomson menguntitnya suatu hari,
Mereka memanggilnya kepala kerang lalu lari tunggang langgang
.
Satu siang di musim semi, Sam ditinggalkan di dalam hujan.
Di jalan di antara Seaview dan Maine,
ia memperhatikan air masuk ke selokan.
.
Ibunya di Jalan raya
berhenti di bahu jalan
dan memukul dashboard—
ia tak sanggup menerima
kepedihan,
frustasi,
dan kesakitan.
.
“Benar, sayang,” katanya,
“Aku tidak bercanda
rasanya ada yang amis
dan itu anak kita.
Aku tidak suka bilang ini, tapi harus,
Kau menyalahkan anak itu karena masalah kita di ranjang.”
.
Suami mencoba sadar, memakai obat
yang membuat semuanya jadi merah.
Ia pakai ramuan, dan lotion
serta campuran alkohol dan logam.
Ia kesakitan, kegatalan, bergelinjang dan berdarah.
.
Kata dokter,
“Saya tidak bisa memastikan,
tetapi penyebab penyakit anda bisa jadi obatnya.
Kata orang kerang bisa menambah kekuatan seksual.
Mungkin makan anak anda
bisa membuat anda melakukannya berjam-jam!”
.
Ia berjinjit masuk kamar,
ia berjalan penuh kepura-puraan,
keringat di dahinya,
dan di mulutnya—dusta.
“Nak, apakah kau bahagia? Ayah tak mau menyudutkanmu,
tapi apa kau pernah bermimpi tentang surga?
Apa kau sudah mau mati?”
.
Sam mengedipkan matanya dua kali.
tapi tidak menjawab.
Ayah mengeluarkan pisau, dan mengendurkan dasi.
.
Seraya mengangkat anaknya,
Sam menetes di baju ayahnya,
yang dengan cangkang di bibirnya,
memasukan Sam ke kerongkongannya.
.
Mereka mengubur Sam di dalam pasir di pinggir laut
—mengucap  doa, meneteskan air mata—
lalu pulang jam tiga sore.
.
Salib dari kayu yang hanyut ditancapkan di makamnya.
Kata-kata tertulis di pasir
berjanji Yesus akan selamatkan.
.
Namun kenangannya hilang dalam sekali ombak pasang.
.
Sesampai di rumah, di atas ranjang:
suami mencium istri lalu bilang,
“Ayo kita coba, sayang.”
.
“Tapi kali ini,” bisik istri, “kita minta anak perempuan.”
.
.
Diterjemahkan oleh Nosa Normanda
dari “The Melancholy Death of Oyster Boy”.
Dari buku The Melancholy Death of Oyster Boy and Other Stories, hal. 29.

.
.

* Tim Burton
adalah sutradara dari film-film: Corpse Bride (2005), Charlie
and The Chocolate Factory
(2005), Big Fish (2003), Planet
of The Apes
(2001), Sleepy Hollow (1999), Mars Attacks!
(1996), Ed Wood (1995), Batman Returns (1992), Edward
Scissorhands
(1990), Batman (1989), Beetlejuice
(1988), dan Pee Wee’s Adventure (1985).

Nosa dan Seandainya

March 29th, 2008 by wonderguitar

Seandainya kau dan aku sepicisan Romeo dan Juliet
Pasti akan lebih senang kita di peti mati tragedi
.
Kenyataannya
kau adalah gadis samudra
dan aku pemuda langit biru
Sama warna, sama luas
Saling mengisi memberi hujan
Tapi tak pernah bertemu
.
Kita menikah di bawah Cassiopeia
Anak-anak kita awan dan kabut
Bermain di antara dadamu dan dadaku
.
Tapi kita tak pernah bertemu
.
Sesekali-kali kita menitis
Menjadi Oedipus dan Jocasta
Menjadi Nietzsche dan Salome
Menjadi Chairil dan Ida
.
Tapi kita tak pernah bertemu
.
Seandainya kau dan aku mati di laut bergenggaman
Beranakan jangkar yang merantai pergelangan kaki kita
Pasti akan lebih bahagia adanya kita
.
Betapa damai berandai-andai
.
Margonda, 2008

Yang Membatu dan Menungguku

March 10th, 2008 by wonderguitar

Yang membatu dan
menungguku

di luar pintumu
terkunci
aku

di ruang remangmu terbuta
aku

di ceruk matamu terhimpit
aku

.

Yang membatu dan
menungguku

kumenujumu di bawah bulan
sore

ku tahu tak datang aku
pada waktu

kuterima
tertutupnya pintumu

.

Yang membatu dan
menungguku

henti sudah
kugedor pintumu

lelah sudah malam
kurengkuh

kini saatnya aku menanti

.

Dan lepas
aku pasrahkan

nasib kau dan aku

yang kesepian di antara
pintu

dan membatu

.

Margonda, 2008

Mereka Yang Kutinggal Pergi

March 10th, 2008 by wonderguitar

Mereka adalah orang-orang yang hidup di
pantai resah

Gelap di pagi hari, kelam di senja, dan
memuja-muja citraan

Mereka memuja sebuah foto Matahari
terbenam di pantai nan jingga

Karena foto itu adalah berhala paling
bercahaya di hidup mereka

.

Di Pantai Resah mereka, senja dipotong
dan dikantongi untuk yang terkasih:

Yaitu diri mereka masing-masing; sebuah
imajinasi ketika masturbasi

.

Aku hendak mengambil foto itu dan
merobek-robeknya

Tetapi mereka pasti akan membunuh lalu
memakanku terlebih dahulu

Mereka buta warna cahaya dan tak mau
melihat senyatanya senja

Atau ungunya pagi, birunya cerah siang,
terangnya mentari, atau awan mendung yang menari dengan gaun
abu-abunya diselingi irama guntur…

.

Yang siapa tahu bisa ditemukan di balik
samudra sana

dan membuat mata melihat lebih dari
sekedar warna gradasi jingga

.

“Lebih baik hidup menyembah citra,
daripada menyebrang berbuah duka!”

Kata mereka, sementara tak tahu menahu
ada apa di seberang pantai resahnya

.

Aku takut air, aku tak bisa berenang

Tapi aku lebih takut dengan warnaku
yang semakin hitam putih:

Rambutku menghitam, kulitku memucat dan
mataku memutih

Sementara foto itu semakin bercahaya,
semakin disembahsujudi

.

Persetan, aku akan berenang,

Menyebrangi samudra dan mencari warna

Atau mati tenggelam dalam kesuraman

‘Mati suram lebih baik daripada hidup
suram,’

pikirku

.

Dan aku tenggelam, hampir mati

Sampai insang-insang tumbuh di hati

Aku ini makhluk unggul berevolusi

Jika saja alam masih ibunya beri:

.

Bahkan Ikan bisa Jadi Burung!

.

Dari sini, pantai resah mereka berwarna
abu-abu

Persis sebuah film noir rekaman masa
lalu

Dan aku berwarna pelangi, bebas
menggebu

Lautan menyucikanku dari kehitamputihan

.

Dari sini, mereka adalah tokoh dalam tv
Flatscreen

Yang kalau aku bosan, tinggal kutekan
tombol merah

Maka matilah mereka semua

Sambil memandangi sebuah foto

.

Senja berwarna jingga untuk kekasih
mereka:

Fetishism Egoism 

Mereka masturbasi sampai mati!

.

Margonda, 2008

Puisi Kamu yang Bukan Puisi

March 10th, 2008 by wonderguitar

uisi Kamu yang Bukan Puisi

.

Kamu bilang kamu cinta padaku

Dosenku bilang kamu adalah caraku
mengidentifikasi diri

Jerry McGuire bilang You Complete Me

Freud bilang kamu adalah tujuan penisku

Chairil bilang kamu sumbu lampu
benderang yang kan membakar laron sepertiku

Mereka bilang kamu jalang

Mamaku bahkan bilang, jangan sampai aku
menyentuhmu, apalagi menyenggamaimu

Kau setan

.

Persetan

.

Aku bilang

Bisa kamu tak pulang sekarang? Aku
masih ingin menatap wajahmu barang sebentar, paling tidak sampai aku
mati, atau kau perkosa aku dulu…

.

Pagi buta februari 2008. Margonda.