Janus & Mikail
Sunday, August 28th, 2005
Ngentot!! Ngapain aja elo ni hari BABII!! Percuma aja elo gue kasih makan tiap hari kalo cuma segini yang elo dapet!! Apa? Apa!? Jangan ngomonglo! Tai! Ngentoot!! Egh! URRGH! Ampun pak-ampun pak, palalo peyang! Anjing! Sinilo! SINI! Ugh! Apa!? Mao gue gampar lagi? Nih! Makan nih tempelengan! Tai kucing lo pake nangis-nangis segala!
Elo pikir gue kesian ama elo! He? He? Ugh lo! Anjing! Elo tuh ga bakal idup kalo ga ada gue cuung! Maklo tuh cuman pecun murah! Udah jadi bangke lagi! Sadar lo anjing! Ma’ lo juga sama anjingnya ama elo! Nggak guna! Apa? Jangan liat-liat! Awas lo yah kalo besok masih ngasih cuma segini! Liat ni pake matalo! Ini tu goceng! GOCENG! Beli rokok gue juga ga cukup! Ha? Elo laper belom makan!? Tai anjing tuh makan! Pasti tadi elo dah dapet duit trus lo buat jajan kan!? He? Ngentotlo!! Tai ! nih bogem lagi!! Ngentoot!!!!”
Sudah! Hentikan! Aku tak mau melihat ini lagi! Cukup wahai Mikail! Cukup! Aku sudah sadar! Kini aku tahu. Janganlah lagi kau buat aku melihat itu. Aku tahu. Tolonglah hentikan penglihatan ini. Aku…aku…
“Kepada yang tercinta bapak Sanggeni dan keluarga. Assalamualaikum We Er We Be. Pak, Minah di Jakarta baik-baik saja. Mas Dibyo sudah menaruh…mengkursuskan Minah di kursus menjahit. Disini Minah juga diajarkan…hmm..diajarkan bahasa inggeris. Minah sudah bisa bicara haw du yu du, menjawab yes dan no, dan…ehh…bilang teng kyu. Hhh…
Pak, bu, karena hal-hal diataslah, Minah belum bisa pulang. Selain itu, gaji Minah masih pas-pasan jadi belum bisa kirim duit untuk bapak ibu di kampung. Maaf ya pak, bu. Minah janji akan kirim uang begitu kursus selesai dan Minah sudah dapat pekerjaan tetap. Mungkin minggu…bulan depan. Untuk masalah pulang, Minah akan coba pulang lebaran ini, tapi kayaknya sulit, soalnya masih banyak pekerjaan. Sekian dulu dari anakmu, bila ada salah kata mohon dimaafkan. Wasalamualaikum warohmatullahiwabarakatuh. Anakmu, Siti Aminah.
ADUH! Eh mas Bowo…, kapan dateng mas? Ssshh, sabar dong mas, pelan-pelan. Ah…eh.. jangan dulu mas, saya masih mmmmph…mmph…mas…hh.. AWWW! Aduh!! Mas sakit mas! Aduh! Pelan-pelan kenapa…oh, itu! Sini kemarikan! Mas jangan dibaca! Mas.. tolonglah…ya mas ya!! KEMBALIKAAAN!
Maaf mas…, saya cuma ndak suka surat saya dibaca orang. AH! Mas ampun mas! Ampun! Maaf mas! ARGGH!! Eghe…! MMpht! Hik…hik…hiiks.. ARGGH! Stop! Hhhh…”
Hentikan Mikail! Hentikan! Aku mencintainya…aku mencintainya Mikail! Kenapa kau biarkan aku hanya melihat!! Aku ingin menolongnya! Bebaskan aku! Bebaskan aku!! MIKAIL!!
Hhh… aku mengerti. Tak ada yang bisa kau lakukan selain apa Ia ijinkan. Seperti juga aku. Tapi bukan ini kesadaran yang kuinginkan! Aku tidak ingin kenyataan ini! Kenapa Ia begitu subjektif! Kenapa tidak kau biarkan aku menolongnya! Kenapa tak kau biarkan aku menolong diriku! Kalau tak ada gunanya melihat, kenapa harus kau perlihatkan? Kalau tak ada gunanya hidup untuk apa kita hidup? Kenapa Mikail? Kenapa Tuanmu melakukan ini padaku? Kenapa!? KENA…
“Kau tak tahu apa rasanya, anakku! Kau tak tahu penderitaanku! Hentikan menyuruh-nyuruh aku, kau anak ingusan tak tahu diri! Tak berhak kau memerintah-merintah ibumu seperti itu! Aku SEHAT! Aku tidak gila! Kau yang sakit! Kau tidak mau melihat kenyataan! KITA MISKIN! KITA CUMA GEMBEL! Hentikan impianmu! Rumah sakit hanya untuk orang-orang kaya! Ibumu ini… ibumu ini cuma…ARGGH! Lepaskan aku kau anak durhaka! Pergilah kau kepada bapakmu si setan itu! Tinggalkan aku! Tinggalkan! Huh! Kau tak mengerti apa-apa! Hentikan! UGH! PERGI KAU ANJING!! PERGI!! ANAK SETAN! SETAN! Setan…hhh…”
MIKAIL!! SIALAN KAU! Hentikan! Sampai kapan kau akan membuatku melihat semua ini! Semua hanya memori! Semua sudah lewat. Aku harus tenang. Aku harus pasrah. Hhh…Semua sudah berlalu. Aku tak bisa menolong, hanya dapat memperhatikan. Iya kau benar… pada saat itu hanya mereka yang bisa menolong diri mereka sendiri. Semua adalah kumpulan subjektivitas.
Tapi aku tak punya lagi diri sekarang. Subjektivitas yang Tuanmu berikan tak ada arti lagi bagiku. Aku sudah tiada. Hanya mengada-ada diantara sekumpulan jiwa-jiwa kering.
Hhh…aku pasrah Mikail. Apa lagi yang akan kau perlihatkan padaku? Kemunafikan? Kebinatangan binatang yang mengaku setengah malaikat karena akal? Kekerasan seksual apalagi? Sodomi? Sadomasochist? Apa lagi?
“Lihatlah bu… anak kita perempuan. Cantiknya ia… aku beri dia nama Siti Aminah, persis seperti ibunda nabi Muhammad. Supaya kelak ia bisa melahirkan anak-anak yang soleh dan beriman, seperti nabi Muhammad. Lihat bu! Ia tersenyum. Oh iya bu bidan, saya hampir lupa, saya adzani dulu putri saya ini. Allahuakbar…Allahuakbar…”
Oh, lihat itu Mikail, cintaku dalam bentuknya yang paling suci. Ia yang terkutuk tetapi ditanamkan lafadz-lafadz Tuanmu pada otaknya yang masih kosong! Vonis mati yang dijatuhkan pada cintaku itu ketika ia dilahirkan sudah jelas! Lalu apa? Masih kau bilang aku kafir? Masih kau bilang aku penuh dosa? Lihat! Aku benarkan? Aku benarkan ketika bilang Tuanmu tidak adil? Ha!?
—000—
“Hei, Baba Tong! Kalo baba ga bisa bayar duit keamanan buat minggu ini, baba siap-siap aja pindah dari ni kios! He!? Masa bodo! Atau baba mao kios baba gue obrak abrik? Paan? Tempo? TAHI! Neh tempo! Tempoeleng! Hahahahahaha….!
Hallo!? Kenapa Su? Apa? Barang udah nyampe? Iye-iye! Gue kesana nih ‘ari. ‘Eh Baba! Elo lagi bruntung gue masih ada kerjaan ni ‘ari! Tapi kalo besok belom ada duit, elo bakalan buntung! ‘uh!”
Begitu. Iya memang begitu caraku dulu! Tapi aku tak akan melakukan itu jika bukan gara-gara Tuanmu mempermainkan wanita yang kucintai! Tai Tuanmu itu! Lihat! Kau membuatku emosi lagi! Sampai kapan? Sampai kapan Mikail!?
“Min…, Mas cinta sekali sama kamu. Mas pingin kamu jadi istri mas. Kamu mau Min? nanti kamu mas tebus dari tempat ini. Mas Janji bakal membuatmu bahagia. Ya Min ya… dari pada kamu disini sama Si Dibyo terus. Disuruh ngelayani pria-pria nggak jelas, mending kamu ikut mas. Nikah. Mas sayang sama kamu Min. Selalu terbayang-bayang wajahmu yang ayu di setiap mimpi mas. Ayuk Min, kita kawin…Hah! Kamu Mau! Betapa bahagianya hati mas Bowomu ini Min. Mmmuah! Ayo! Kita lapor ke mucikari sialanmu itu…”
Lihat Mikail! Betapa aku mencintainya! Dan lihat juga! Tunjukkan juga bagaimana Tuanmu itu menghilangkan kesadaranku. Merenggut semua dariku. Perlihatkan! Perlihatkan!
“Huh! Menyesal aku mengawini pelacur itu. Cepat sekali ia hamil dan melahirkan, paling-paling itu juga bukan anakku.” Hei Mikail! Itu aku! Perlihatkan sisi cintaku. Kumohon! Kumohon! Kau mau buktikan kalau Tuanmu tak adil, perlihatkan!
“Entah kenapa sejak mas Bowo pulang sambil mabuk dan membaca surat untuk orang tuaku malam itu, ia jadi berbeda. Ia bekerja terus, dan pulang malam terus. Apa yang ia rencanakan.”
“Aku harus membuat Minah bahagia. Bagaimanapun pekerjaan supir angkot tak akan bisa membiayai dan membuat ia menjadi seperti impiannya. Aku tak akan mabuk lagi, aku harus kerja. Si Mbot kemarin nawarin kerjaan jadi BD, itu aja kayaknya!”
“Sepertinya keuangan semakin menipis sehingga Mas Bowo harus kerja siang malam. Ya… siapa? Eh… Mas Dibyo. Silakan duduk, mas. Iya mas, saya baik. Saya sudah tidak mungkin ikut mas lagi. Ah mas bisa saja, masa tak ada daun baru yang jauh melebihi saya. Saya sudah jadi istri orang mas, tak mungkin kesana lagi. Masalah keuangan? Memang suamiku supir angkot, tetapi cukup kok. Sebentar ya, mas aku taruh anakku di kamar dulu, ia baru tidur. Apa ini, mas? Tidak bisa mas… ambil saja lagi, saya tidak seberjasa itu. Jangan mas. Ah, mas sebentar lagi suami saya pulang. Mas! Argh!”
“Apa maksudnya semua ini Min? Apa maksudnya ini!? Hei kau Mucikari sialan! Keluar Kau BABII!! Min! Memangnya tak cukup aku banting tulang hah? Anjing! Baik! Sekali pelacur, kau akan selalu menjadi pelacur. Tai! Cuih! Anak itupun pasti bukan anakku! Ngentot!”
“Mas jangan tinggalkan aku mas! Ini anak kita… Mas! Mas!!”
Lihat Mikail! Bukan salahku kan bila aku tak mengakuinya menjadi istriku! Bukan salahku kan jika aku tak mengakui anakku sendiri! Bukan salahku kan bila aku selalu menyiksa mereka berdua, sampai istriku mati dan anakku jadi gembel? Aku jadi preman, dagang ganja, putau, shabu-shabu, semua ini pada awalnya untuk Minah! Lihat apa yang Tuanmu lakukan padaku dan orang-orang yang kucintai! Lihat dimana Ia taruh mereka! Bahkan anakku sendiri pun sudah mati makan obat yang dijualnya sendiri. Aku masih berpendapat sama: Tuanmu subjektif!1 Apa katamu!? Hei! Mau kemana kau!? Baiklah! Terserah apa mau Tuanmu. Biar aku mampus dikoyak-koyak sepi!!
1 Diambil dari puisi Chairil Anwar “Sia-Sia”