Archive for November, 2005

Subuh Terakhir Sang Imam

Saturday, November 12th, 2005

Aku datang padanya pada saat-saat seperti ini. Ketika aku bingung harus bagaimana dalam penantianku atas jawaban Allah tentang semua pertanyaanku. Maka disanalah ia, berdzikir sehabis memimpin shalat maghrib berjamaah di mushola di desa kami. Aku menunggu di belakang sekat perempuan sampai ia selesai. Ketika semua orang sudah pulang setelah doa dan dzikir yang panjang lebar, ia masih saja duduk bersila di tempat imam, berdzikir sambil menangis. Walau aku tak bisa mendengar dzikirnya, aku tahu pasti ia sedang tidak di bumi ini. Ia sedang bersama Allah, bertatap muka denganNya.

            “Buya,” aku memanggilnya ketika ia telah selesai shalat dan hendak keluar dari Mushola.

            “Assalamualaikum, Bu Sumi…”

            “Wa alaikum salam. Maaf mengganggu, Buya. Bisa saya bicara sebentar.”

            “Oh, tentu. Mari, bu. Silakan.”

            Kami duduk bersila di atas karpet hijau di dalam Mushola itu. Buya duduk di hadapanku. Wajah tuanya terlihat sangat meneduhkan, dan kuharap ia bisa menjadi perantara antara Allah denganku atas solusi masalah yang kuhadapi. Masalah yang membuatku sangat takut, yang akan membuatku terdampar di neraka jahanam tanpa ada yang menolong. Aku bercerita padanya tentang anak lelakiku yang telah meninggalkan masa remajanya ke masa dewasa, masa dewasa yang membuatnya melupakan Tuhannya, melupakan Islam. Aku takut sekali, karena aku akan kehilangan salah satu amal jariyahku, dan aku akan membusuk di neraka karenanya.

***

Aku agnostik. Aku kecewa. Aku ada dalam kesedihan tanpa akhir tanpa batas tanpa Tuhan Yang Maha Baik. Sudah cukup aku melihat dunia rancanganNya ini. Rancangan yang buruk. Perang terus ada di mana-mana, korupsi, kemiskinan, politik busuk yang serakah dengan kekuasaan. Benar-benar aneh dunia rancanganNya! Sementara ada orang-orang kaya dan makmur tapi kesepian dan bingung harus dibuang kemana uang haram mereka yang terlalu banyak, orang-orang kere mengatur rencana jahat bagaimana merampok rumah si anu, bagaimana mengumpulkan uang dan massa supaya saudaranya yang paling kaya bisa jadi caleg, bagaimana menjarah toko ini atau bagaimana biar merdeka dari negara rakus supaya mereka sendiri bisa lebih rakus lagi menjarah rumah, harta benda dan perawan tetangga sendiri.

            Itu baru manusia, Kau lebih kejam lagi Tuhan! Sementara manusia membom tempat hiburan dan membunuh ratusan orang, Kau menyapu sedikit bagian bumi dan membunuh ratusan ribu orang. Aku di sana waktu itu, ketika kau telah selesai muntah! Bau bangkai, hingar-bingar tangis, bayi-bayi pada mati dan Kau duduk di singgasanamu tanpa bisa dilihat, mendengarkan doa minta ampun dari mereka yang menyembahmu dengan tulus. Mereka yang mengira Kau marah, mereka yang mengira Kau begitu mencintai mereka, dan umpatku yang mengira Kau diam.

            Apa lagi kini? Aku kira agama adalah satu-satunya harapan dan anggapan kalau Kau mencintai mereka. Dan aku takkan ikut campur di dalamnya. Takkan kubilang pikiranku pada mereka yang beragama, karena aku mengasihi mereka termasuk ibuku sendiri. Tapi lihat agama sekarang! Masalah baru muncul lagi ketika para Kiai-kiai itu melarang orang agama lain beribadah pada Tuhannya. Siapa mereka!? Apa mereka Kau!?  Hak apa yang mereka punya!? Mereka cuma menggunakan otak orang-orang yang kurang berpendidikan dan masih kolot untuk membuat orang lain menderita dengan mengatasnamakanMu! Sekarang yang lebih parah lagi, ibuku ingin aku menemui salah satu dari Kiai itu untuk mendapatkan pencerahan spiritual. Seorang Kiai yang katanya sangat sakti, bisa menyembuhkan orang sakit dan kesurupan.

ARRRGH! Buat apa aku pulang ke desa kalau mesti dirajam pikiran buruk ibuku sendiri? Aku ke sini untuk mendapat sedikit ketenangan setelah bekerja sebagai koresponden sebuah koran ternama selama dua tahun, setelah melihat dunia ciptaanMu yang begitu buruk. Aku muda tapi capek! Tak dapatkah aku tenang di desa kelahiranku ini walau sebentar!?

***

“Oh, begitu.” Tanggapan Buya terhadap semua keluhan yang telah kuceritakan padanya.

“Saya sudah tua, Buya. Saya sudah lelah dan saya hanya ingin punya anak yang saleh. Dulu ketika kecil, anak itu bahkan menangis ketika saya tidak membangunkannya untuk shalat Subuh. Ia bahkan merengek di dalam bus ketika tidak bisa salat Jum’at karena sedang dalam perjalanan. Sekarang? Oh, Buya, saya tidak menyekolahkannya tinggi-tinggi untuk menjadi anak seperti itu. Saya hanya melaksanakan wasiat bapaknya yang ingin anaknya lulus jadi sarjana dan hidup layak, tidak seperti ini. Lebih baik punya anak bodoh daripada anak kafir.”

“Jangan berkata seperti itu, Bu. Belajar adalah salah satu perintah Allah dan itu adalah sebuah berkah. Ia hanya sedang mencari. Hanya suatu bentuk proses pendewasaan.”

“Tapi, Buya, saya merasa dia terpengaruh oleh orang-orang kristen temannya di kota. Orang-orang kafir itu mempengaruhi anak saya untuk masuk agama mereka. Saya sangat takut.”

“Astaghfirullahalazim…jangan berburuk sangka terhadap orang lain, Bu. Nanti saya akan bicara dengan anak ibu, Syamsul bukan, namanya? Sekarang ibu pulanglah dan istighfar banyak-banyak, mohon supaya diberikan jalan yang terbaik oleh Allah dan dijernihkan pikiran ibu dari segala penyakit hati.”

Setelah itu aku pamitan kepada Buya dan pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan aku berfikir, apa Buya bisa membuat anakku kembali ke jalan yang benar, yang diridhai Allah? Ia hanya orang tua yang sudah ditinggal mati istrinya, dan anak-anaknya sendiripun sudah merantau dan menetap di kota lain. Tapi segera kusingkirkan pikiran itu. Aku masih ingat dulu bagaimana Buya menyembuhkan orang yang kesurupan. Ada salah satu tetanggaku yang anaknya kesurupan dan datang ke Buya. Di tempat Buyalah ia menemukan kalau anaknya menderita epilepsi. Buya langsung menyumpal anak itu dengan sorban dan membawanya ke rumah sakit. Sejak itu banyak orang yang disangka kesurupan dibawa ke Buya. Beberapa diberitahu tentang penanggulangan epilepsi dan dirujuk ke puskesmas, beberapa lagi disuruh pulang karena Buya mengaku tak tahu Jin apa yang merasukinya. Padahal menurutku, mereka yang disuruh pulang hanya orang-orang yang cari perhatian.

Buya juga tak pernah diam di rumahnya jika tak ada pekerjaan. Ia hidup dari uang pensiun dan uang kiriman anak-anaknya yang menetap di kota. Tetapi ia tak pernah tahan tinggal malas-malasan di rumah. Ia selalu sibuk membantu orang lain, atau sibuk mencari kesibukan. Ia sering membantu buruh-buruh tani di desa kami untuk menanam padi dan memotongnya ketika panen, ia membantu menggantikan pekerja yang sakit, terkadang, ia malah pernah kotor-kotoran membajak sawah dengan kerbau. Sudah tua tetapi tenaganya masih sangat kuat.

Ia juga sering mengajar di SD di desa kami. SD itu sudah rapuh, gentingnya bocor, hampir runtuh. Salah satu dari sekian banyak sekolah yang dilupakan pemerintah. Buya tidak digaji, malahan ia sering menyumbang untuk SD itu dengan uang bulanannya. Di sana, ia tidak hanya mengajar agama, tetapi juga matematika, sejarah, dan bahasa Inggris, jika guru pelajaran itu sedang absen. Ia sangat mencintai anak-anak dan sangat pandai mengayomi mereka.

Baiklah! Aku takkan ragu lagi! Hanya Buya satu-satunya orang yang bisa mengajar anakku. Mudah-mudahan anakku bisa menemukan jalan yang benar. Amin.

***

“Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Aku membuka pintu dan berhadapan dengan seorang pria tua. Ia kurus sekali, jenggotnya putih tetapi murah senyum. Dari senyumnya terlihat tiga buah gigi saja. Sudah renta dan ompong, tetapi badannya masih tegap. Nampak sisa-sisa keperkasaan semasa mudanya. Ia berpeci putih, dan berbaju koko berwarna krem, memakai celana bahan putih dan sendal jepit dari kulit.

Ada orang yang mengetuk pintu rumahku.

“Perkenalkan, nama saya Umar Salim, biasanya dipanggil Buya.” Ia menyodorkan tangannya padaku.

“Oh…iya, saya Syamsul. Bapak mencari ibu ya? Ibu baru saja pergi arisan, Pak.” Asumsiku keluar begitu saja begitu aku mengenalnya. ‘Ini si Kiai yang sering diceritakan ibuku. Ada perasaan aneh ketika memandang matanya. Begitu teduh, begitu kaya akan makna hidup. Ah, tidak mungkin. Ia hanya orang tua sok tahu tukang doktrin,’ pikirku.

“Tidak, saya justru mencari kamu.”

“Oh…” Betul, dia datang untuk bicara denganku. Disuruh ibu, makanya ibu menyingkir. Dia ingin mendoktrin aku dengan ajaran radikal bodohnya.

“Silakan masuk, pak.” Kataku. Ia duduk di ruang tamu. Aku minta ijin untuk kebelakang sebentar dan membuatkan minuman. Ketika itu aku sudah memikirkan segala argumen yang akan kuajukan atas doktrinnya. Rasakan kau penipu ulung.

“Kata ibumu, kau wartawan koran terkenal, ya? Hebat. Dulu kuliah di mana?”

“Saya kuliah di jurusan Jurnalistik, lalu ada kawan yang merekomendasikan saya pada koran itu, dan jadilah saya.”

“Oh, jangan-jangan, kamu Syamsul Arifin yang menulis berita tentang bencana Tsunami di Aceh dan pertikaian Jalur Gaza itu?”

“Begitulah.” Aku tak menyangka kiai kampung baca koran juga. Tetapi banyak hal-hal lain yang tidak kusangka yang muncul pada percakapan kami. Ia orang yang sangat cerdas dan intelek. Kemampuan bicara dan mengeluarkan pikirannya amat baik dan ia sering membaca buku, termasuk buku-buku filsafat yang kugemari. Ia cukup banyak mengetahui tentang filsafat barat dan timur. Kami berdiskusi tentang Tagore, Nietszche, Marx, Buddha…wah orang ini mengagumkan! Aku serasa berbicara dengan profesorku yang punya gelar Ph.D.

Ketika kami sampai pada topik Tuhan dan kutanyakan kenapa ia sampai percaya penuh dan jadi seorang Da’i, ia hanya bilang,”Semua orang boleh mengatakan apa saja, menulis apa saja, memikirkan apa saja, selama itu tidak mengganggu orang lain. Terserah para filsuf itu mau bilang apa. Saya lakukan apa yang saya anggap benar begitu juga mereka. Dan buat saya, Islamlah yang benar, Allahlah yang benar, masalah rasionalitas saya tidak peduli, karena saya percaya Tuhan tidak boleh dirasionalisasi, Ia melebihi kemampuan berfikir manusia.”

Lalu aku bertanya perihal penutupan tempat ibadah dan merosotnya toleransi Islam. “Kalau saya salat berjamaah dengan keluarga saya di rumah, apakah itu berarti rumah saya masjid?” sebuah pertanyaan retoris keluar dari mulut si Kiai menghadapi topik yang kuajukan.

“Banyak Kiai-kiai yang mengatasnamakan Islam ketika melakukan tindakannya, dan saya sangat membenci hal itu. Sama halnya saya membenci penyebar gosip yang bisa membuat orang saling menyakiti. Kiai itu manusia, Syam, bukan Tuhan. Dan orang-orang seperti mereka, seperti Kiai-kiai yang menutup tempat hiburan dan tempat ibadah dengan paksa, adalah orang-orang yang sedang bermimpi jadi pahlawan jihad. Sama seperti maling mabuk yang bermimpi jadi Robin Hood. Mereka menutup mata hati mereka tentang sebab-akibat, menolak melihat dari sudut pandang orang lain. Mereka buta. Mereka sudah kehilangan iman kepada Islam, kepada Allah. Mereka tak percaya lagi atas kekuasaan Tuhannya sendiri, makanya sok berkuasa. Mereka takut pada agama lain. Maka ingatlah ketika Nabi Muhammad bersabda kepada orang kafir, ‘lakum di nukum waliadin’, untukmu agamamu dan untukku agamaku. Tetapi kali ini, yang kafir adalah orang Islam sendiri.

"Berbicara tentang agama, bagaimana denganmu Syam?”

“Saya sudah mengatakan pada bapak bagaimana pikiran saya tentang rancangan Tuhan yang buruk. Saya rasa tak perlu saya jelaskan lagi alasan saya tidak salat dan menjadi agnostik.”

“Dapatkah kau melihat kesedihan ibumu, Syam? Ia sudah tua dan ia berharap banyak padamu untuk menyelamatkannya di hari akhir. Datanglah ke Mushola dan salatlah Syam.”

“Bapak menyuruh saya untuk berpura-pura beribadah, dan berbohong pada ibu dan diri sendiri?”

“Tidak, tentu tidak. Saya percaya kau adalah orang yang sangat baik, dan mengerti dunia dengan baik pula. Tetapi tahukah kau, dengan beribadah, kau mendukung orang-orang yang hanya punya satu harapan: Tuhan. Mereka orang-orang putus asa Syam, dan tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka kecuali Tuhannya. Banyak dari mereka yang tidak melihat apa yang kau lihat. Mereka ditakdirkan dengan keadaan seperti itu. Maka salatlah, Syam, jika kau percaya pada dualisme dunia. Berpihaklah pada hal yang menurutmu benar. Tak ada apapun untuk mereka jika kau renggut agama mereka. Biarkan mereka mati dengan tenang. Biarkan ibumu mati dengan tenang, biarkan saya mati dengan tenang. Pikir dan renungkanlah”

Setelah itu aku diam. Ia mohon diri dan aku menutup pintu, langsung merenung dan bertanya, apa yang telah kulakukan!?

***

Alhamdullilah. Sudah dua bulan ini anakku ikut salat bersamaku di Mushola. Ia jadi rajin sekali dan seringkali mengingatkan aku untuk salat. Ia bahkan sering salat malam dan menangis. Ia menjadi sangat dekat dengan Buya, dan sepertinya senang belajar dengannya.  Tapi aku agak sedih, karena anakku harus kembali ke pekerjaannya. Cutinya hampir selesai. Walau begitu aku lega. Aku bahagia.

Kebahagiaanku berkurang karena sebuah duka yang mendalam. Suatu subuh, anakku membangunkanku untuk salat subuh di Mushola. Buya menjadi imam. Ketika selesai rakaat kedua, sang Imam tidak pernah mengucap salam. Ia terus duduk, dan jemaah mulai gusar. Akhirnya Syamsul yang berada di belakang imam menggantikannya mengucap salam. Ternyata saat itu Buya telah menghembuskan nafas terakhirnya. Ketika salat subuh hampir selesai. Ia meninggal tanpa tanda-tanda sakit, tanpa memberi petunjuk apapun, tanpa mengucapkan salam. Sangat tenang, sangat bersahaja dalam posisi salatnya. Ia orang yang diridhai Allah, meninggal pada usia 78 tahun. Aku tidak begitu sedih karena akupun siap menyusulnya menghadap Illahi. Anakku adalah anak yang saleh, dan aku tidak takut lagi pada neraka. Terima kasih Buya. Semoga semua amal baikmu diterima di sisiNya.

 

Simone

Tuesday, November 8th, 2005

Pria itu tercengang ketika berpapasan dengan seorang wanita dari masa lalunya, begitu juga wanita itu. Mereka berpapasan di pintu ruang periksa darah sebuah rumah sakit dimana orang-orang berpenyakit HIV/AIDS biasa periksa darah.

“Mas, Mbak, mohon menyingkir. Jangan berdiri di depan pintu masuk”, kata seorang suster kepada mereka.

Mereka berdua hanya berpandangan, tidak bicara. Si wanita masuk ke ruangan cuci darah, si pria keluar. Si pria menunggu bangku panjang di depan pintu masuk bersama pasien-pasien yang menunggu giliran. Urusannya di tempat itu sudah selesai, namun ada urusan lain yang muncul secara tiba-tiba. Suatu urusan yang terjebak dalam suatu ruang dan waktu di masa lalu, dan tak pernah selesai. Ia menunggu dengan harapan bisa menyelesaikan urusan itu.

                                                                ***

Sinar matahari memaksa masuk ke kamar kecil berukuran 3×4 m yang penuh asap rokok. Kamar itu dipenuhi asap bagai kabut pagi dengan aroma klab malam.

“There is something in the eye, when you staring at me There’s a glance beyond the window, that I cannot see”

Musik blues mengalun dari stereo kecil diantara botol-botol minuman keras. Dari Whisky, Bourbon, Tequila, Jack Daniels, sampai minuman murah seperti anggur Orang Tua dan Topi Miring berjejer disana, diatas karpet merah basah yang lusuh dan mengudarakan bau minuman murah dan mahal bercampur asap rokok. Menimbulkan aroma yang khas: pesing. Suntikan, aqua gelas yang isinya tinggal setengah, dan sedikit bubuk putih berceceran di atas karpet merah basah.

Diatas kasur di pojok ruangan, persis di sebelah karpet, seorang gadis telanjang terlentang. Ia terlelap dengan rambut hitam kemerahan yang menutupi wajahnya. Kulitnya putih bersih, tubuhnya kurus dan tulang kerangka membias terbungkus kulit diantara payudaranya. Dadanya kembang-kempis seiring dengan nafas yang terus berhembus. Di ujung kasur tempat gadis itu tidur, seorang pria muda telanjang dada berjongkok di antara ujung kasur dan pintu masuk, menjadi penghalang bagi siapapun yang hendak membuka pintu. Ia berjongkok sambil memperhatikan gadis itu. Matanya lebam kurang tidur, badannya kurus kering dengan kulit kuning tipis menutupi tulang. Ia merokok sambil memperhatikan si gadis sembari terpejam lalu terbangun lagi.

“Tai,” pemuda itu bicara dalam hati, “apa lagi abis ini, Di? Ancur udah semuanya…you’re a drug addict, fuckin’ sex maniac, and now you’re in love with somebody else’s wife. Damn! Screw you!” katanya pada diri sendiri. Ia membuka matanya dan memperhatikan gadis yang terlelap itu. Ia terus berpikir betapa cantiknya ia, perempuan yang membebaskan dirinya sendiri dari kungkungan masyarakat gila. Begitu cerdas dan independen. Sangat berbeda dengan semua perempuan yang ia kenal, gadis ini tahu apa yang dia mau dan sadar akan keberadaannya. Ia menyimpulkan, dengan sangat menyesal dan ketidakmengertian, kalau ia mencintai perempuan itu.

“Mmph…Panas banget sih di sini.” Perempuan itu bangun perlahan. Ia lalu berdiri dan memakai pakaian dalam dan kaos oblong hijau yang berceceran di kasur. “Minggir dikit dong, aku mau cuci muka dulu,” katanya menyuruh pria itu untuk menyingkir dari pintu. ”Di, minggir…” “Iya!” pria itu menyingkir lalu merebahkan diri ke tempat tidur. Tak lama kemudian, perempuan itu kembali ke kamar dengan muka dan rambut yang basah. “Udah sarapan, Di? Nyarap yuk, aku laper nih.”

“Ya udah, kamu tunggu di sini aja. Aku ke depan beli nasi uduk.” Pemuda itu beranjak dari kasur, mengambil kaos putih kusam yang tergantung di belakang pintu dan beranjak keluar.

Si perempuan mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Mereka makan nasi uduk bersama-sama di teras rumah. Pemuda itu tidak bisa tidak memperhatikan si gadis. Ia adalah perempuan yang sangat feminin. Makannya perlahan-lahan menggunakan sendok garpu, mengunyah dengan mulut tertutup, bicaranya lembut agak kekanak-kanakan, semua itu membuat pemuda merasa heran kenapa si gadis, yang suka ngedrugs, minum, dan selingkuh, bisa seelegan dan sefeminin itu. Seperti perempuan baik-baik, tetapi binal.

“Kamu kenapa sih ngeliatin aku terus? Cara makan aku aneh ya?”

“Oh… enggak. Enggak pa-pa. Cuma lucu aja ngeliat kamu makan.”

“Nggak jelas.”

Simone. Apa arti nama itu? Nama Perancis, tapi tidak terlihat wajah perancisnya. Si pemuda terus berfikir sambil makan.

“Om kamu nggak apa-apa kita numpang di rumahnya begini.” Kata Simone setelah selesai makan dan menyalakan rokok.

“Dia nggak tahu kok. Lagi di kamarnya, dan diurusin pembokat. Asal kita nggak berisik, aku rasa kita bisa santai aja.” Di rumah itu tinggal seorang Purnawirawan TNI yang terserang stroke. Ia hanya diurus oleh dua orang pembantunya dan hampir tak pernah keluar rumah. Di kamarnya, ia hanya melamun di atas tempat tidur, tersiksa menunggu mati. Terkadang ia menekan bel di tangan kirinya, satu-satunya bagian tubuh yang masih bisa digerakkan, untuk memanggil pembantunya bila pispotnya penuh, atau saat ia ingin buang air besar, atau sekedar iseng ingin diajak jalan-jalan keliling rumah dengan kursi roda.

“Kok Om kamu sendirian aja tinggal disini?”

“Anaknya udah pada gede-gede. Ada yang gawe, ada yang gitting dan tinggal ama nyokapnya, tapi nggak ada yang mau ngurus dia.”

“Kok? Emang istrinya kenapa?”

“Udah cerai lama sama dia. Waktu sehat kejantannya terlalu aktif, selingkuh kesana kemari, simpenannya banyak, anaknya yang ngurus cuma bininya. Terus cerai, ditinggal selingkuhannya, sekarang di sinilah dia. Berkubang nunggu mati.”

“Oh.”

Mereka berdua merokok sambil melamun. Si pemuda melamunkan Simone. Berpikir apa dia mau meninggalkan suaminya demi pemuda itu. Ia memperhatikan Simone. Bibirnya yang tebal menghisap rokok dengan nikmatnya, sedikit-sedikit. Matanya nanar menatap pagar rumah yang tinggi dan berwarna putih. Pandangan matanya kosong, entah apa yang dipikirkan perempuan itu, pikir si pemuda.

“Kenapa sih kamu nikah, Mon?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut si pemuda.

“He..,” gadis itu tertegun seeakan baru bangun dari tidurnya.

“Aku sih cuma pengen bebas dari mama papa aja. Bosen dikontrol mereka. Ngekang banget.” “Jadi kamu nikah terpaksa dan kamu nggak cinta sama suami kamu?”

Yaa…enggak juga sih. Aku suka sama dia, dia orang yang paling perhatian sama aku beberapa tahun ini. Waktu dia ngelamar aku, aku udah bilang aku nggak cinta sama dia, tapi aku mau nikah sama dia soalnya aku butuh suami. Bukan buat jagain aku, tapi buat asesoris status aja, biar bisa bebas. Kita udah komitmen free-relationship kok, jadi aku santai aja.”

“Kalo sama aku?” “Jangan mulai deh. Udah jelas kan? Aku nggak cinta sama siapapun, nggak juga kamu. Tapi aku suka sama kamu, jadi nikmatin aja waktu-waktu ini yang nggak bakalan tahan selamanya. Ok, Di.”

Waktu yang tak akan bertahan selamanya. Kata-kata Simone selalu melekat dalam benak pemuda itu. Suatu hari ia akan menyadari kalau mereka terjebak dalam suatu ruang dan waktu, yang tak pernah akan kembali. Hari sudah sore ketika si pemuda bangun dari lelapnya tidur siang karena mabuk. Dua hari ia dan Simone hanya tidur, senggama, dan nyuntik. Pemuda itu tak pernah puas, tetapi ia bahagia karena semua masalah seakan tidak pernah ada. Ayah-ibunya tak pernah cerai, adik perempuannya yang pertama tak pernah menjadi seorang penganut agama yang fanatik dan mengutuk-ngutuknya, adik perempuannya yang kedua tak pernah menjadi anak SMP yang selalu gonta-ganti pacar, ke diskotik dan having sex dengan siapa saja yang ia mau. Ia juga merasa kalau ia tak pernah lahir, ia merasa kalau ia adalah manusia lain yang hidup bahagia dalam dunia mimpi dengan syndrome euphoria tanpa akhir dan seorang gadis yang dicintainya.

“Simone…” si pemuda mencari-cari perempuan itu dengan meraba-raba kasur. Seharusnya ia tidur disebelahnya. Ia membuka mata, dan melihat sekeliling kamar. Ia menemukan sesosok tubuh telanjang tertidur tertelungkup dengan kulit yang pucat diatas karpet.

“Mon!” pemuda berteriak dan membalik badan kurus perempuan itu. Di lengannya menempel jarum suntik dan dari mulutnya keluar busa. Ia sudah tidak bergerak. Matanya melotot dan tubuhnya kaku. Si pemuda berteriak-teriak minta tolong. Ia memeluk perempuan itu dan menciuminya berkali-kali. Ia terus berteriak, terus berteriak sampai semua orang datang dan kau dan aku melayang di langit-langit kamar. Kita diam. Kita bisu. Kita tuli.

                                                                      ***

Di sebuah restoran fast food, sepasang manusia bercengkrama sambil makan ayam goreng dengan memegang nasi yang terbungkus kertas. Tak ada tawa lepas dalam percakapan mereka, hanya sedikit senyum dan raut wajah yang kaku. Seperti dua orang yang baru kenal beberapa menit. “Kapan kamu tahu kamu kena?” tanya wanita itu kepada si pria.

“…tiga hari setelah anakku lahir.”

“Kamu punya anak? Jangan-jangan kamu nikah juga lagi?”

“Begitu deh.” Si pria menjawab dengan santai sambil makan. Si wanita enggan bertanya lebih jauh karena tahu kalau anak dan istri si pria pasti juga kena.

“Anakku belum tentu kena kok. Soalnya lahirnya sesar dan nggak boleh di susuin ibunya.” Pria itu menjawab seakan tahu apa yang di pikirkan si wanita.

“Masih inget si Hendi nggak? Itu, selingkuhannya Simone.” Si pria bertanya kepada si wanita yang dulu adalah sahabat dekat Simone.

“Hendi si pembalap itu, yang dulu sering ikut dugem bareng kita?”

“Iya. Dia sekarang udah kerja juga jadi developer lho. Bisa juga kerja tuh anak.”

“Terus hubungannya sama Simone?”

“Udah abis lama. Sekitar setahun setelah kamu rehab ke Singapur, Simone meninggal.”

“Hah!?” si perempuan menjatuhkan makanannya karena kaget, ”Kenapa? OD, ya?”

“Awalnya sih aku denger gitu, tapi meninggalnya lebih mirip bunuh diri.”

“Kok kamu tahu?”

“Aku ketemu Hendi sekitar 2 bulan yang lalu di Klinik Dharmais. Dia juga kena. Katanya, Simone make sampe OD itu disengaja. Mereka lagi sama-sama waktu itu, dan waktu si Hendi bangun, Simone udah meninggal. Kata Hendi dia udah pakaw waktu tidur bareng siang itu, tapi dia malah terus ngetep padahal udah tinggi. Padahal dia udah ngerti dosisnya.”

“Simone lebih beruntung daripada kita. Aku juga kadang-kadang pengen bunuh diri.” Perempuan itu entah kenapa tak ingin bertanya lebih jauh lagi mengenai Simone, seakan sudah tahu pasti kenapa Simone mati.

“Kamu berubah deh. Jadi lebih pesimis.”

“Kan aku bilang ‘kadang-kadang’. Kamu juga berubah, jadi bapak-bapak yang kolot. Ngerasa nggak sih kamu, hidup kita nggak pernah berubah? Udah nggak make, kena AIDS. Kurang apa lagi hidup kita, Bay? Tapi aku optimis, hidup harus dijalanin ampe abis. Soalnya abis mati kan nggak bakal ada apa-apa. Selesai semua!”

“Kamu masih nggak percaya akhirat?”

“Begitulah. Sekarang aku sadar satu hal, Bay. Manusia nggak bakal jadi lebih baik. Masalah nggak bakal ilang, ngedrugs atau tanpa ngedrugs. Semua orang gitu kok, mereka belom sadar aja. Masih pada ngarep. Muter-muter terus ampe mati.”

“Aku nggak bisa bohong sama diri sendiri. Aku setuju sama kamu. Tapi aku masih ingin ngeliat orang-orang yang aku sayang bahagia. Aku seneng ngeliatnya. Makanya aku berhenti make terus nikah.”

“Hebat kamu masih perduli sama mereka. Orang-orang yang nggak bisa dipercaya.” Dalam hati, pria itu sangat mengerti apa maksud si wanita. Manusia memang tidak bisa dipercaya, mereka bahkan tidak bisa mempercayai diri sendiri. Pria dan wanita itu berfikir, ketika orang-orang menuntut mereka supaya sembuh, mengasihani mereka, orang-orang itu menjadi egois karena semua kelakuan baiknya semata-mata hanya untuk melihat estetika dalam hidup mereka. Menolak kejelekan hidup. Si pria dan wanita, Simone dan Hendi, adalah contoh orang-orang bebas yang terbuang. Mereka berpisah setelah si pria mencarikan taksi untuk si wanita yang tak mau diantar pulang. Itulah terakhir kali mereka bertemu. Akhirnya selesai sudah urusan mereka yang terjebak dalam ruang dan waktu. Kau dan aku tak perlu tahu apa urusannya, biar itu tetap jadi urusan mereka. Kita hanya perlu melihat dari sini dan merenungi nasib kita sendiri.

(Tb.Simatupang 030905)

Vodka, Blues dan Kau!

Tuesday, November 8th, 2005

Vodka

Apa yang bisa kau lakukan pada saat seperti ini?

Banyak

Apa?

Membuatmu jadi berat

Lalu?

Muntah-muntah

Hmm…

Apa yang kau mau?

Aku?

Ya, kau

Entah.

Mati?

Entah

Kalau mau mati, kau tak butuh aku

Lalu, siapa yang aku butuh

Kau

Aku?

Ya, kau

Blues

Hmm?

Bisa Bantu?

Tergantung

Aku butuh teman saat putus asa

Kau dapat makhluk yang tepat

Kemana kau?

Disini

Dimana?

Di kau

Aku?

Ya, kau

Terjebak

Nggak ada duit

Nggak ada cinta

Nggak ada perempuan

Nggak ada manusia

Kumpulan huruf

Asap rokok

Mabuk air putih

Nggak ada vodka

Cuma ada blues

Dan kau

Aku?

Ya, kau