Subuh Terakhir Sang Imam
Saturday, November 12th, 2005
Aku datang padanya pada saat-saat seperti ini. Ketika aku bingung harus bagaimana dalam penantianku atas jawaban Allah tentang semua pertanyaanku. Maka disanalah ia, berdzikir sehabis memimpin shalat maghrib berjamaah di mushola di desa kami. Aku menunggu di belakang sekat perempuan sampai ia selesai. Ketika semua orang sudah pulang setelah doa dan dzikir yang panjang lebar, ia masih saja duduk bersila di tempat imam, berdzikir sambil menangis. Walau aku tak bisa mendengar dzikirnya, aku tahu pasti ia sedang tidak di bumi ini. Ia sedang bersama Allah, bertatap muka denganNya.
“Buya,” aku memanggilnya ketika ia telah selesai shalat dan hendak keluar dari Mushola.
“Assalamualaikum, Bu Sumi…”
“Wa alaikum salam. Maaf mengganggu, Buya. Bisa saya bicara sebentar.”
“Oh, tentu. Mari, bu. Silakan.”
Kami duduk bersila di atas karpet hijau di dalam Mushola itu. Buya duduk di hadapanku. Wajah tuanya terlihat sangat meneduhkan, dan kuharap ia bisa menjadi perantara antara Allah denganku atas solusi masalah yang kuhadapi. Masalah yang membuatku sangat takut, yang akan membuatku terdampar di neraka jahanam tanpa ada yang menolong. Aku bercerita padanya tentang anak lelakiku yang telah meninggalkan masa remajanya ke masa dewasa, masa dewasa yang membuatnya melupakan Tuhannya, melupakan Islam. Aku takut sekali, karena aku akan kehilangan salah satu amal jariyahku, dan aku akan membusuk di neraka karenanya.
***
Aku agnostik. Aku kecewa. Aku ada dalam kesedihan tanpa akhir tanpa batas tanpa Tuhan Yang Maha Baik. Sudah cukup aku melihat dunia rancanganNya ini. Rancangan yang buruk. Perang terus ada di mana-mana, korupsi, kemiskinan, politik busuk yang serakah dengan kekuasaan. Benar-benar aneh dunia rancanganNya! Sementara ada orang-orang kaya dan makmur tapi kesepian dan bingung harus dibuang kemana uang haram mereka yang terlalu banyak, orang-orang kere mengatur rencana jahat bagaimana merampok rumah si anu, bagaimana mengumpulkan uang dan massa supaya saudaranya yang paling kaya bisa jadi caleg, bagaimana menjarah toko ini atau bagaimana biar merdeka dari negara rakus supaya mereka sendiri bisa lebih rakus lagi menjarah rumah, harta benda dan perawan tetangga sendiri.
Itu baru manusia, Kau lebih kejam lagi Tuhan! Sementara manusia membom tempat hiburan dan membunuh ratusan orang, Kau menyapu sedikit bagian bumi dan membunuh ratusan ribu orang. Aku di sana waktu itu, ketika kau telah selesai muntah! Bau bangkai, hingar-bingar tangis, bayi-bayi pada mati dan Kau duduk di singgasanamu tanpa bisa dilihat, mendengarkan doa minta ampun dari mereka yang menyembahmu dengan tulus. Mereka yang mengira Kau marah, mereka yang mengira Kau begitu mencintai mereka, dan umpatku yang mengira Kau diam.
Apa lagi kini? Aku kira agama adalah satu-satunya harapan dan anggapan kalau Kau mencintai mereka. Dan aku takkan ikut campur di dalamnya. Takkan kubilang pikiranku pada mereka yang beragama, karena aku mengasihi mereka termasuk ibuku sendiri. Tapi lihat agama sekarang! Masalah baru muncul lagi ketika para Kiai-kiai itu melarang orang agama lain beribadah pada Tuhannya. Siapa mereka!? Apa mereka Kau!? Hak apa yang mereka punya!? Mereka cuma menggunakan otak orang-orang yang kurang berpendidikan dan masih kolot untuk membuat orang lain menderita dengan mengatasnamakanMu! Sekarang yang lebih parah lagi, ibuku ingin aku menemui salah satu dari Kiai itu untuk mendapatkan pencerahan spiritual. Seorang Kiai yang katanya sangat sakti, bisa menyembuhkan orang sakit dan kesurupan.
ARRRGH! Buat apa aku pulang ke desa kalau mesti dirajam pikiran buruk ibuku sendiri? Aku ke sini untuk mendapat sedikit ketenangan setelah bekerja sebagai koresponden sebuah koran ternama selama dua tahun, setelah melihat dunia ciptaanMu yang begitu buruk. Aku muda tapi capek! Tak dapatkah aku tenang di desa kelahiranku ini walau sebentar!?
***
“Oh, begitu.” Tanggapan Buya terhadap semua keluhan yang telah kuceritakan padanya.
“Saya sudah tua, Buya. Saya sudah lelah dan saya hanya ingin punya anak yang saleh. Dulu ketika kecil, anak itu bahkan menangis ketika saya tidak membangunkannya untuk shalat Subuh. Ia bahkan merengek di dalam bus ketika tidak bisa salat Jum’at karena sedang dalam perjalanan. Sekarang? Oh, Buya, saya tidak menyekolahkannya tinggi-tinggi untuk menjadi anak seperti itu. Saya hanya melaksanakan wasiat bapaknya yang ingin anaknya lulus jadi sarjana dan hidup layak, tidak seperti ini. Lebih baik punya anak bodoh daripada anak kafir.”
“Jangan berkata seperti itu, Bu. Belajar adalah salah satu perintah Allah dan itu adalah sebuah berkah. Ia hanya sedang mencari. Hanya suatu bentuk proses pendewasaan.”
“Tapi, Buya, saya merasa dia terpengaruh oleh orang-orang kristen temannya di kota. Orang-orang kafir itu mempengaruhi anak saya untuk masuk agama mereka. Saya sangat takut.”
“Astaghfirullahalazim…jangan berburuk sangka terhadap orang lain, Bu. Nanti saya akan bicara dengan anak ibu, Syamsul bukan, namanya? Sekarang ibu pulanglah dan istighfar banyak-banyak, mohon supaya diberikan jalan yang terbaik oleh Allah dan dijernihkan pikiran ibu dari segala penyakit hati.”
Setelah itu aku pamitan kepada Buya dan pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan aku berfikir, apa Buya bisa membuat anakku kembali ke jalan yang benar, yang diridhai Allah? Ia hanya orang tua yang sudah ditinggal mati istrinya, dan anak-anaknya sendiripun sudah merantau dan menetap di kota lain. Tapi segera kusingkirkan pikiran itu. Aku masih ingat dulu bagaimana Buya menyembuhkan orang yang kesurupan. Ada salah satu tetanggaku yang anaknya kesurupan dan datang ke Buya. Di tempat Buyalah ia menemukan kalau anaknya menderita epilepsi. Buya langsung menyumpal anak itu dengan sorban dan membawanya ke rumah sakit. Sejak itu banyak orang yang disangka kesurupan dibawa ke Buya. Beberapa diberitahu tentang penanggulangan epilepsi dan dirujuk ke puskesmas, beberapa lagi disuruh pulang karena Buya mengaku tak tahu Jin apa yang merasukinya. Padahal menurutku, mereka yang disuruh pulang hanya orang-orang yang cari perhatian.
Buya juga tak pernah diam di rumahnya jika tak ada pekerjaan. Ia hidup dari uang pensiun dan uang kiriman anak-anaknya yang menetap di kota. Tetapi ia tak pernah tahan tinggal malas-malasan di rumah. Ia selalu sibuk membantu orang lain, atau sibuk mencari kesibukan. Ia sering membantu buruh-buruh tani di desa kami untuk menanam padi dan memotongnya ketika panen, ia membantu menggantikan pekerja yang sakit, terkadang, ia malah pernah kotor-kotoran membajak sawah dengan kerbau. Sudah tua tetapi tenaganya masih sangat kuat.
Ia juga sering mengajar di SD di desa kami. SD itu sudah rapuh, gentingnya bocor, hampir runtuh. Salah satu dari sekian banyak sekolah yang dilupakan pemerintah. Buya tidak digaji, malahan ia sering menyumbang untuk SD itu dengan uang bulanannya. Di sana, ia tidak hanya mengajar agama, tetapi juga matematika, sejarah, dan bahasa Inggris, jika guru pelajaran itu sedang absen. Ia sangat mencintai anak-anak dan sangat pandai mengayomi mereka.
Baiklah! Aku takkan ragu lagi! Hanya Buya satu-satunya orang yang bisa mengajar anakku. Mudah-mudahan anakku bisa menemukan jalan yang benar. Amin.
***
“Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Aku membuka pintu dan berhadapan dengan seorang pria tua. Ia kurus sekali, jenggotnya putih tetapi murah senyum. Dari senyumnya terlihat tiga buah gigi saja. Sudah renta dan ompong, tetapi badannya masih tegap. Nampak sisa-sisa keperkasaan semasa mudanya. Ia berpeci putih, dan berbaju koko berwarna krem, memakai celana bahan putih dan sendal jepit dari kulit.
Ada orang yang mengetuk pintu rumahku.
“Perkenalkan, nama saya Umar Salim, biasanya dipanggil Buya.” Ia menyodorkan tangannya padaku.
“Oh…iya, saya Syamsul. Bapak mencari ibu ya? Ibu baru saja pergi arisan, Pak.” Asumsiku keluar begitu saja begitu aku mengenalnya. ‘Ini si Kiai yang sering diceritakan ibuku. Ada perasaan aneh ketika memandang matanya. Begitu teduh, begitu kaya akan makna hidup. Ah, tidak mungkin. Ia hanya orang tua sok tahu tukang doktrin,’ pikirku.
“Tidak, saya justru mencari kamu.”
“Oh…” Betul, dia datang untuk bicara denganku. Disuruh ibu, makanya ibu menyingkir. Dia ingin mendoktrin aku dengan ajaran radikal bodohnya.
“Silakan masuk, pak.” Kataku. Ia duduk di ruang tamu. Aku minta ijin untuk kebelakang sebentar dan membuatkan minuman. Ketika itu aku sudah memikirkan segala argumen yang akan kuajukan atas doktrinnya. Rasakan kau penipu ulung.
“Kata ibumu, kau wartawan koran terkenal, ya? Hebat. Dulu kuliah di mana?”
“Saya kuliah di jurusan Jurnalistik, lalu ada kawan yang merekomendasikan saya pada koran itu, dan jadilah saya.”
“Oh, jangan-jangan, kamu Syamsul Arifin yang menulis berita tentang bencana Tsunami di Aceh dan pertikaian Jalur Gaza itu?”
“Begitulah.” Aku tak menyangka kiai kampung baca koran juga. Tetapi banyak hal-hal lain yang tidak kusangka yang muncul pada percakapan kami. Ia orang yang sangat cerdas dan intelek. Kemampuan bicara dan mengeluarkan pikirannya amat baik dan ia sering membaca buku, termasuk buku-buku filsafat yang kugemari. Ia cukup banyak mengetahui tentang filsafat barat dan timur. Kami berdiskusi tentang Tagore, Nietszche, Marx, Buddha…wah orang ini mengagumkan! Aku serasa berbicara dengan profesorku yang punya gelar Ph.D.
Ketika kami sampai pada topik Tuhan dan kutanyakan kenapa ia sampai percaya penuh dan jadi seorang Da’i, ia hanya bilang,”Semua orang boleh mengatakan apa saja, menulis apa saja, memikirkan apa saja, selama itu tidak mengganggu orang lain. Terserah para filsuf itu mau bilang apa. Saya lakukan apa yang saya anggap benar begitu juga mereka. Dan buat saya, Islamlah yang benar, Allahlah yang benar, masalah rasionalitas saya tidak peduli, karena saya percaya Tuhan tidak boleh dirasionalisasi, Ia melebihi kemampuan berfikir manusia.”
Lalu aku bertanya perihal penutupan tempat ibadah dan merosotnya toleransi Islam. “Kalau saya salat berjamaah dengan keluarga saya di rumah, apakah itu berarti rumah saya masjid?” sebuah pertanyaan retoris keluar dari mulut si Kiai menghadapi topik yang kuajukan.
“Banyak Kiai-kiai yang mengatasnamakan Islam ketika melakukan tindakannya, dan saya sangat membenci hal itu. Sama halnya saya membenci penyebar gosip yang bisa membuat orang saling menyakiti. Kiai itu manusia, Syam, bukan Tuhan. Dan orang-orang seperti mereka, seperti Kiai-kiai yang menutup tempat hiburan dan tempat ibadah dengan paksa, adalah orang-orang yang sedang bermimpi jadi pahlawan jihad. Sama seperti maling mabuk yang bermimpi jadi Robin Hood. Mereka menutup mata hati mereka tentang sebab-akibat, menolak melihat dari sudut pandang orang lain. Mereka buta. Mereka sudah kehilangan iman kepada Islam, kepada Allah. Mereka tak percaya lagi atas kekuasaan Tuhannya sendiri, makanya sok berkuasa. Mereka takut pada agama lain. Maka ingatlah ketika Nabi Muhammad bersabda kepada orang kafir, ‘lakum di nukum waliadin’, untukmu agamamu dan untukku agamaku. Tetapi kali ini, yang kafir adalah orang Islam sendiri.
"Berbicara tentang agama, bagaimana denganmu Syam?”
“Saya sudah mengatakan pada bapak bagaimana pikiran saya tentang rancangan Tuhan yang buruk. Saya rasa tak perlu saya jelaskan lagi alasan saya tidak salat dan menjadi agnostik.”
“Dapatkah kau melihat kesedihan ibumu, Syam? Ia sudah tua dan ia berharap banyak padamu untuk menyelamatkannya di hari akhir. Datanglah ke Mushola dan salatlah Syam.”
“Bapak menyuruh saya untuk berpura-pura beribadah, dan berbohong pada ibu dan diri sendiri?”
“Tidak, tentu tidak. Saya percaya kau adalah orang yang sangat baik, dan mengerti dunia dengan baik pula. Tetapi tahukah kau, dengan beribadah, kau mendukung orang-orang yang hanya punya satu harapan: Tuhan. Mereka orang-orang putus asa Syam, dan tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka kecuali Tuhannya. Banyak dari mereka yang tidak melihat apa yang kau lihat. Mereka ditakdirkan dengan keadaan seperti itu. Maka salatlah, Syam, jika kau percaya pada dualisme dunia. Berpihaklah pada hal yang menurutmu benar. Tak ada apapun untuk mereka jika kau renggut agama mereka. Biarkan mereka mati dengan tenang. Biarkan ibumu mati dengan tenang, biarkan saya mati dengan tenang. Pikir dan renungkanlah”
Setelah itu aku diam. Ia mohon diri dan aku menutup pintu, langsung merenung dan bertanya, apa yang telah kulakukan!?
***
Alhamdullilah. Sudah dua bulan ini anakku ikut salat bersamaku di Mushola. Ia jadi rajin sekali dan seringkali mengingatkan aku untuk salat. Ia bahkan sering salat malam dan menangis. Ia menjadi sangat dekat dengan Buya, dan sepertinya senang belajar dengannya. Tapi aku agak sedih, karena anakku harus kembali ke pekerjaannya. Cutinya hampir selesai. Walau begitu aku lega. Aku bahagia.
Kebahagiaanku berkurang karena sebuah duka yang mendalam. Suatu subuh, anakku membangunkanku untuk salat subuh di Mushola. Buya menjadi imam. Ketika selesai rakaat kedua, sang Imam tidak pernah mengucap salam. Ia terus duduk, dan jemaah mulai gusar. Akhirnya Syamsul yang berada di belakang imam menggantikannya mengucap salam. Ternyata saat itu Buya telah menghembuskan nafas terakhirnya. Ketika salat subuh hampir selesai. Ia meninggal tanpa tanda-tanda sakit, tanpa memberi petunjuk apapun, tanpa mengucapkan salam. Sangat tenang, sangat bersahaja dalam posisi salatnya. Ia orang yang diridhai Allah, meninggal pada usia 78 tahun. Aku tidak begitu sedih karena akupun siap menyusulnya menghadap Illahi. Anakku adalah anak yang saleh, dan aku tidak takut lagi pada neraka. Terima kasih Buya. Semoga semua amal baikmu diterima di sisiNya.