Perempuan Yang Merindukan Lelaki Yang Merindukan Bulan Dari Jendela
Tuesday, October 31st, 2006Setiap sore, perempuan itu akan duduk di teras rumahnya dan memandang
ke arah lantai dua sebuah gedung perkantoran kecil. Di sana ada sebuah
jendela yang akan selalu terbuka ketika langit mulai gelap, dan kota
mulai diterangi cahaya jingga lampu jalanan. Perempuan itu seakan
selalu siap untuk memperhatikan jendela. Setiap sore, ia menyiapkan
sepiring pisang goreng dan secangkir kopi untuk ayahnya, lalu mengobrol
dengan ayahnya yang berusia 50 tahunan sambil matanya menerawang
memperhatikan jendela.
Seringkali tidak ada yang terjadi di
jendela itu. Ia akan memandanginya sampai larut malam, dan jendela dan
tirainya tidak juga terbuka. Ia harus kembali ke dalam rumah dan
mengurus apa saja yang harus di urus, tetapi selalu menyempatkan diri
melihat jendela itu, entah dari dalam rumah, atau kalau ia ingin keluar
rumah untuk pergi ke warung, atau sekedar mengobrol dengan tetangga.
Ketika
malam tiba, ia masih memperhatikan jendela itu. Ketika gelap
menyelimuti atap-atap rumah dan bulan menarikan awan-awan kelabu,
perempuan itu jaga di dalam kamarnya. Lalu ia akan keluar dari rumah
dan kembali memperhatikan jendela itu. Berkali-kali ia lakukan itu
sampai cahaya subuh menyeruak dari gedung-gedung tinggi di timur, dan
ia lelap selama beberapa menit, bangun dan mandi. Setelah itu ia akan
mengenakan pakaian putih-abu-abu, dan pergi sekolah.
Sepulang
sekolah, ia tidur dan bangun pada sore hari, membeli pisang goreng,
membuat kopi untuk ayah, dan memperhatikan jendela dari teras. Itu yang
selalu terjadi. Dari sore, hingga pagi buta.
Tak ada yang
terjadi. Perempuan itu tak pernah menyerah. Ia terus menunggu dan
memperhatikan. Sampai suatu malam, saat yang dinantinya tiba. Tirai
jendela dibuka, Jendela dibuka, dan lelaki itu nampak memandang ke atas
langit. Memandang bulan.
Lelaki itu bermandikan cahaya bulan
dicampur remangnya lampu jalan yang masuk dari jendela. Setelah ia lama
menunggu, bulan akhirnya menampakkan cahayanya dengan penuh dan
meneranginya. Ia menunggu dari balik jendela tertutup. Ia hanya
mengintip dari dalam tirai, memastikan tidak ada yang memperhatikannya
dari bawah sana.
Di dalam gedung itu, si lelaki merindukan
bulan. Bulan yang dapat membuatnya kembali menjadi manusia. Lelaki itu
adalah makhluk yang dikutuk Tuhan untuk tinggal di dalam gedung itu
selama-lamanya. Ia adalah Iblis yang menginkan tubuh Adam, dan vagina
Hawa. Ia ingin memiliki rasa itu, dari substansi-substansi yang tidak
bisa diberikan unsur apinya yang membara. Dan ketika malam tiba, lelaki
itu merindukan bulan yang cahaya akan menerangi semua keinginan hingga
semua menyeruak keluar menjadi ia: seorang manusia lelaki. Tubuh Adam,
dan bayangan Hawa di Bulan.
Maka ketika Bulan telanjang tanpa
selendang awan kelabunya, ia akan membuka tirai, membuka jendela dan
membiarkan cahaya bulan membelai tubuhnya: tubuh Adam, sambil ia
memperhatikan bayangan Hawa di Bulan.
Sementara itu, si
perempuan memperhatikan si lelaki sambil merekam segalanya tentang dia.
tubuhnya, wajahnya, kulitnya, dan membuat lelaki itu dari tanah-tanah
ide di dalam otaknya. Ia membuat lelaki dari tanah liat untuk dijadikan
lelakinya. Perempuan Tuhan meniupkan nyawa ke dalam patung tanah liat
dan jadilah ia: Adam yang dibuat dari tanah liat perempuan. Lalu Adam
menari-nari didalam surga pikirannya, mengecupnya, membelainya,
mencumbunya, mencintanya, dan mengalunginya dengan bunga.
Dan
cahaya bulan menghilang perlahan ditelan cahaya terang perlahan
mentari. Lelaki itu menutup jendela dan tirainya. Menjadi iblis dalam
kegelapan. Sementara itu, Adam di Eden pikiran perempuan muda perlahan
menghisap buah dada si perempuan dengan lembut dan menghilang terusir
oleh suara-suara bising pagi di kota. Semua berakhir dalam satu malam,
dan mereka, perempuan yang merindukan lelaki yang merindukan bulan,
akan menunggu malan-malam yang lain.
Malam ketika perempuan
menjadi bulan, tanah menjadi iblis, menjadi Adam, memperhatikan Hawa di
Bulan yang membuat Adam dengan tanah liat di Eden pikiran. Selamanya,
kekal mereka saling merindukan…
ciganjur, 211006