Archive for January, 2007

Kuburan

Thursday, January 18th, 2007

oleh: Jim Morrison

Wow, aku muak pada keraguan

Hidup dalam cahaya selatan

Suatu ikatan yang kejam

Ketika para pelayan punya kekuatan

Manusia-anjing dan para wanita
jahat-nya

Menarik selimut lusuh dari

Nahkoda-nahkoda kita

Aku muak pada muka-muka masam

Menatapku dari menara televisi

Aku mau mawar di tamanku, mengerti?

Kini bayi-bayi ningrat dan batu-batu
ruby

harus menggantikan orang-orang asing

Yang terkubur dalam lumpur

Sayangnya, manusia-manusia aneh inilah,

daging dan darah

Yang akan menjadi makanan tanah

Menunggu untuk membawa kita

ke Kuburan

Kau tahu betapa pucat dan kejam
mengancam

Kematian yang datang tiba-tiba

Tanpa peringatan, tanpa rencana

seperti teman menakutkan

yang kau bawa ke
ranjangmu

Mati membuat kita menjadi malaikat

Dan memberikan sayap-sayap

Dengan cengkraman gagak di punggung
halus kita

Tak ada lagi uang, tak ada pakaian
indah

Kerajaan lain ini nampak jauh lebih
baik

Sampai taringnya yang lain mengagahi
kita

& kita menjadi benih yang takkan
tumbuh

Aku takkan pergi

Lebih baik makan dengan
sahabat-sahabatku

Daripada dengan keluarga besar itu.

Disadur dari The
Severed Garden
oleh Nosa

Feel like dancing, Dog?

Thursday, January 18th, 2007

Animal fuck animal
Animal fuck human
Animal is instinctual
Instinct is power

power fuck

Human?
Now, human don’t fuck
They dance

Are you dancing?

The Night I’ve had my first dance

Me and The Devil

Friday, January 12th, 2007

by Robert Johnson
recording of 5th of sessions, June 20 1937, Dallas, Texas
from The Complete Recording

Early this mornin’, when you knocked upon my door
Early this mornin’, ooh, when you knocked upon my door
And I said, “Hello, Satan, I believe it’s time to go”

Me and the devil, was walkin’ side by side
Me and the devil, ooh, was walkin’ side by side
And I’m goin’ to beat my woman, until I get satisfied

She say you don’t see why, that you will dog me ’round
(spoken: Now, babe, you know you ain’t doin’ me right, don’cha)
She say you don’t see why, ooh, that you will dog me ’round
It must-a be that old evil spirit, so deep down in the ground

You may bury my body, down by the highway side
(spoken: Baby, I don’t care where you bury my body when I’m dead and gone)
You may bury my body, ooh, down by the highway side
So my old evil spirit, can catch a Greyhound bus and ride

Nosa Sang Pembunuh Iman

Friday, January 12th, 2007

Di salah satu entry blognya, Thera nulis kalo gue “knows how to make life seems sooo misrable, he knows how to burn my rage, my anger, in a positive way.” Dia bener. Banyak orang yang juga bilang gitu soal attitude gue.Gue udah kayak ‘a devil’s preacher’. Gue bener-bener kayak orang yang ga bisa membiarkan orang lain senang dengan kebahagian mereka, kepercayaan mereka, cinta mereka, dan segala yang mereka sebut sebagai pedoman hidup mereka. Correction, I’m not the devil’s preacher, I’m the devil in a flesh.

Lalu pertanyaan utama muncul dalam sebuah diskusi di kosan gue antara gue, Asep dan Abrar. Apakah kita, dari segi humanisme, berhak untuk mempengaruhi orang meninggalkan kepercayaannya? Asep (A very best friend of mine and a Philosopher that I took account) bilang kalo kita, para nihilis, nggak berhak mendoktrin orang lain dengan pengetahuan kita, atau retorika kita. Untuk lebih tepatnya, gue nggak boleh mengguncangg iman dan kepercayaan orang lain terhadap sesuatu yang membuat mereka bahagia, suatu kebenaran yang mereka percaya. Mereka akan belajar sendiri kalau ternyata argumen mereka salah melalui seleksi alam, dan bukan kita yang seharusnya mematahkan kebenaran mereka.

Pembicaraan sampai kepada contoh tentang para mahasiswa temen-temen gue yang terlibat NII, suatu aliran agama Islam yang menuntut banyak para pengikutnya untuk tujuan global yang menurut gue adalah suatu eksploitasi terhadap kerentanan psikologis manusia. Menurut Asep, mereka harus dibiarkan saja dalam kepercayaan mereka dan dogma-dogma mereka, karena mereka menemukan kebahagian dan Sanctuary di situ. Sampai situ, pernyataan gue masih sama: gue nggak bakal diam, gue bakal terus berkoar dengan argumen-argumen gue.

Kenapa? Karena gue percaya bahwa dengan berbicara tentang kenyataan yang pahit, dan realitas yang gue percaya bener-bener ada, karena didukung argumen yang jelas, orang akan lebih memiliki pilihan untuk memilih variabel-variabel lain dalam hidup, dan membuatnya lebih dinamis (di mata gue). Gue suka melihat kedinamisan.

kalau Asep sang Darwinian itu masih berpikir kalo semua orang harus belajar sendiri, dan kalah dalam argumennya sendiri, dan gue nggak boleh campur tangan, gue setuju. Gue nggak campur tangan, tapi campur kata. Yang gue kasih dalam saran-saran gue (atau lebih ke doktrin) bukanlah suatu ultimatum atau keharusan tetapi pilihan dan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat dipilih oleh manusia.

Gue percaya kalo manusia bebas memilih. Tapi untuk bisa melihat pilihan itulah yang sulit. Mungkin orang boleh bilang, “Gue nggak mau denger omongan lo, saranlo jelek dan ngerusak semua kepercayaan gue.” Gue setuju sama itu. Elo boleh milih, mau dengerin gue apa nggak. Sama kayak elo boleh milih, mau mabok terus sampe elo mati dan nggak punya pilihan untuk sadar, atau mau mabok sambil memiliki pilihan untuk sadar kapan aja.

Gue percaya kita semua mabok. Bahkan orang yang mengaku paling sadarpun mabok. Kiai pada mabok dogma, perempuan indonesia (kebanyakan) pada mabok patriarki, feminis mabok argumen, pejabat mabok duit, elo mabok, gue mabok, kita semua mabok. Tapi mabok yang paling ideal menurut gue adalah waktu elo mabok elo sadar lagi melewatkan pilihan-pilihan yang lain. Waktu elo mabok, elo bisa nangis mikirin orang yang lagi elo rugikan. Waktu kiai mabok dogma ia bisa miris mikirin perempuan-perempuan awam yang di tindas semitisme patriarkis, waktu pejabat mabok dia bisa nangis ngeliat anak2nya pada giting, atau konsumerisme gila, sementara rakyatnya sengsara, waktu feminis mabok ia bisa empati pada para laki-laki yang terjebak konstruksi patriarkis dan pada sarap karena nggak bisa jadi breadwinner buat keluarganya. Mabok yang sadar adalah hal yang menghubungkan kita satu dan yang lain, dan membuat kita bisa memilih yang lain, atau tidak memilih sama sekali, tetapi tetap terhubung satu sama lain.

Emosi adalah kesadaran dalam mabok itu. Emosi adalah ikatan itu antara satu sama lain. Ketika ada teman gue curhat malem tentang masalah cintanya, gue bisa ikut nangis, ketika orang terdekat gue memaksa cweknya untuk aborsi dan ceweknya mutusin dia, gue bikin dia nangis dengan rasa bersalahnya. waktu dia nggak ada, Gue nangis lebih keras dari dia sendirian. Waktu Nonton teater penuh penjiwaan, dan aktornya menunggu dijemput kereta kencana ke alam kematian, gue nangis. ketika Gema main “Lelaki dibawah” dan terjebak absurdisme, gue nangis. Waktu tmen-tmen gue dapet jalan buntu gara-gara dikejar-kejar NII ampe dia musti cuti kuliah, gue nangis. Waktu sodara deket gue kena AIDS dan masuk rumah sakit untuk keberapa kalinya gue nangis, waktu seorang yang gue sangat hargai mengkhianati gue, gue nangis sekaligus ketawa buat dia.

Nangis gue adalah setiap sayatan yang dirasakan orang-orang itu gue rasain sendiri. Elo seneng elo nangis, elo terlalu sedih elo nangis. Dan pilihan-pilihan yang gue kasih kepada mereka dengan cara yang mereka nggak suka, adalah suatu cerminan betapa gue sayang pada setiap mereka. Betapa gue terhubung sama mereka. Dan itu adalah urusan pribadi gue, seperti perasaan mereka, kepercayaan mereka, dan iman mereka. Gue berhak bicara, tapi yang milih mereka. Gue berhak menggali perasaan gue sendiri dan ngamuk-ngamuk dan nangis dengan cerita mereka, tapi itu badan gue yang sakit, itu suara gue yang serak, itu mata gue yang nangis. Semua gara-gara gue terbawa sama mereka. Dan itu indah.

Gue juga udah siap dengan tindakan gue. Ketika esei ini dibuat, gue udah kehilangan dua temen gue yang meyatakan: “Gue nggak mau ngomongin masalah gue ama elo lagi. terima kasih. gue tau elo sayang ama gue. gue bakal melakukan kesalahan yang sama tapi gue bahagia. gue bakal nyesel belakangan tapi biarin gue bahagia.” SIP! Mereka akan masuk surga semuanya. Walau mereka lupa: SURGA ADALAH KLOSET YANG BERMUARA PADA NERAKA. Tapi bukankah semuanya begitu. Habis terang ditelan gelap, habis bahagia ditelan nestapa. C’est la vie!

Dan gue masih akan berkoar. Bukan untuk memberi mereka suatu salvation, tapi untuk membukakan pintu neraka pada mereka. Neraka yang penuh kemabukan anggur darah dan roti daging. Gue rela mati untuk neraka itu, karena di neraka itu, mereka akan menemukan pilihan-pilihan, dan masuk surga kapanpun mereka mau. Gue nggak akan diam dan membiarkan Tuhan menghubungkan gue sama mereka dan membiarkan alam menjadi determinan. Gue akan jadi bagian dari alam, dari Tuhan, yang secara dinamis akan membuka kemungkinan-kemungkinan itu. Menurut gue itu baik. Kalo menurutlo gue salah, ayo argumen. Kita ke Neraka sama-sama dalam suatu percakapan yang indah.

Dan kesimpulan akhirnya:

kita hidup untuk berpesta-pesta dengan anggur dan roti,
Kita akan selalu mewarnainya dengan cinta dan benci
Kita akan selalu bermain dengan rasa di bumi

Jika kau tak mau merasa biarlah kau mati
Terkuburlah di tanah menjadi bibit yang abadi
Tak berkembang, terisolasi, dan tersangkut di toilet surga

Aku tak akan mati
Aku abadi
Seperti Socrates yang diracun
Munir yang dibungkam
Yesus yang disalib

dan lahir kembali dari selangkangan Zeus
Seperti

Dionysus

Orientasi

Wednesday, January 10th, 2007

Sebuah ruangan dengan kertas-kertas naskah berhamburan. Orang botak berkemeja mengetik di laptopnya. Scripwriter, penulis populer yang berbakat mengetik:

MELANKOLIA ALKOHOLIA

Kamar kos. Dua orang pemuda berdiskusi tentang film yang baru saja mereka tonton. Film drama percintaan yang cukup populer di kalangar remaja masa kini.

SAPTO
Seharusnya ini mudah. Pemuda itu hanya tinggal berhenti melihat handphonenya, ataupun menunggu SMS atau telepon. Dan yang paling penting, ia harus berhenti berharap perempuan itu memaafkannya. Kalau dia terus berharap, yah, konfliknya tak mungkin berakhir. Seharusnya. Tapi itu jadi sulit ketika udah bawa emosi dan perasaan.

DIDO
Ini tuh gampang, To. Filmnya sinetron banget. Nggak logis. Mereka kan udah kenal lama, cewek itu juga yang ngasih harapan terus sama dia. Tapi gue agak-nggak ngerti sama tokoh cewek di film itu. Dia sebenernya cinta nggak sih sama si, siapa, Oki, itu?

SAPTO
Dia ragu-ragu dan sayang sama si Oki. Sangking sayangnya sampai dia ngajakin nikah di umur 40. Tapi dia takut, kalau nanti mereka berhubungan cinta, semua tidak mungkin sama seperti dulu lagi. Friends are forever, tapi lover kan tidak begitu.

DIDO
Ah, lo klise banget. Suka-suka, enggak-enggak, jangan suka yang enggak-enggak. Yang pasti-pasti aja. Ceritanya simpel kok. Tuh cewe cuma kesepian aja karena cowoknya yang sebenernya nggak disukain keluarganya. Itu aja gue rasa.

SAPTO
Kamu salah, Do. Pasti cewek itu tulus sama si Oki. Siapa nama cewek itu tadi sih….

DIDO
Nadya.

SAPTO.
Iya, Nadya pasti tulus. Kalau tidak dia tidak mungkin mau bales ciumannya si Oki, dengan senyum dan bertanya itu maksudnya apa? Si Oki nya yang salah tingkah. Otaknya kotor duluan sih.

DIDO
Cewek emang gitu kali. Dia cuma manfaatin si Oki doang dari awal. Tuh kan, elo sih. Gue jadi stereotyping cewek. TTM tuh emang kayak gitu. Itu obvious banget, To. Gue sih udah males nonton yang begituan.

SAPTO
Itu susah kali. Coba kalo kamu yang ada di posisinya Oki. Gimana perasaanmu?

DIDO
Gue sih, gue perkosa dulu si Nadya, baru gue tinggal. Cantik yang jadi Nadya, itu doang kali yang bikin gue pengen nonton tuh film. Haha.

SAPTO
Kamu jangan banyak-banyak nonton film porno, makanya Do.

DIDO
Lah! Apa hubungannya? Cewek cakep, mah, semua cowok normal juga doyan. Kamu aja yang homo.

SAPTO
Kamu jangan ngomong sembarangan, Do. Memang aku Gay, tapi perasaanku sama orang tulus. Nggak kayak kamu, Cuma tahu nafsu aja. Lagian kamu nggak tahukan bagaimana rasanya kalau cinta kamu nggak terbalas, sementara kamu ngerasa orang yang kamu cintai sebenarnya cinta juga sama kamu.

DIDO
Ups! Oke-oke, sori, To. Tapi gue rasa masalah cinta-cintaan itu kan mainan pikiran aja, To. Dimana-mana juga banyak cinta ditolak. Orang aja suka lupa diri kalo kebawa perasaan.

SAPTO
Nggak segampang itu, Do. Kamu nggak pernah menghargai orang yang sayang sama kamu sih. Kamu sama aja kayak Nadya, ada orang yang sayang sama kamu, kamu juga sayang tapi kamu nolak terus.

DIDO
Maksudlo siapa?

SAPTO
Aku, Do. Kamu tahu kan aku sayang sama kamu. Dan kamu juga sering bilang kalo kamu sayang sama aku. Aku tulus, Do! Dan kamu nggak mau tahu kan perasaan aku bagaimana waktu kamu bilang kamu straight. Aku yakin kamu nggak Straight. Kamu sama aja dengan aku. Kamu cuma negasi doang.

DIDO
Hahaha! Elo gila, To! Gue sayang elo yah sebagai temen aja. Secara, elo juga sering bantuin gue kan. Wajar kan kalo gue bilang gue juga sayang ama elo. Sebagai temen gue.

SAPTO
Tega kamu, Do! Kamu emang bener-bener cuma gunain aku doang. Kamu mesti tahu aku sayang kamu, dan kamu harus jadi milikku. Udah terlalu lama kamu mempermainkan aku Do. Sini kamu!

DIDO
To, jangan To! Elo apa-apaan sih! To! Hey! ARRRGH!

OKI
Tragedi-komedi sederhana. Semestinya. Ternyata rumit sekali. Aku hanya ingin Nadya tahu kalau aku cinta padanya. Aku rela mati untuknya. Segampang itu. Picisan memang, tapi itu adanya. Dan malam ini, aku bisa mendengar dua orang membuat kisah cintaku menjadi semakin rumit. Seharusnya ini tak pernah kudengarkan. Raungan di kepala yang berdialog seharusnya tak pernah kuketik. Aku salah. Bermain-main dengan luka lama yang masih menyisakan sedikit nanah dan sakit yang dalam.
Aku mau menghilang dulu dari kehidupan. Sebentar saja. Paling tidak dari kota ini. Sudah tak mampu lagi kutulis skrip apapun. Picisan. Seperti cinta.

Chessy Indignant Nothing To Adore.
Still
Cozy Imaginatic Nymphomaniac To Abuse

Goddamn.
Melankolia Alkoholia.

Lalu si pengarang otak berbakat, keluar dari kamarnya manuju kamar mandi. Ia menatap nanar wajahnya di cermin wc, membasuh mukanya dan kepalanya yang botak. Mati ide dalam kucuran air keran, ambil sabun buka celana dan berimajinasi tentang cinta yang seakan takkan pernah lalu, dalam suatu persenggamaan abadi, dengan makhluk yang tak lagi bertubuh dan memandangg gendernya. Intinya, bercinta solo, dan terserah Tuhan mau terima atau tidak jia ritual kali itu bersifat sangat personal. Antara dia dan imajinasinya.