Di salah satu entry blognya, Thera nulis kalo gue “knows how to make life seems sooo misrable, he knows how to burn my rage, my anger, in a positive way.” Dia bener. Banyak orang yang juga bilang gitu soal attitude gue.Gue udah kayak ‘a devil’s preacher’. Gue bener-bener kayak orang yang ga bisa membiarkan orang lain senang dengan kebahagian mereka, kepercayaan mereka, cinta mereka, dan segala yang mereka sebut sebagai pedoman hidup mereka. Correction, I’m not the devil’s preacher, I’m the devil in a flesh.
Lalu pertanyaan utama muncul dalam sebuah diskusi di kosan gue antara gue, Asep dan Abrar. Apakah kita, dari segi humanisme, berhak untuk mempengaruhi orang meninggalkan kepercayaannya? Asep (A very best friend of mine and a Philosopher that I took account) bilang kalo kita, para nihilis, nggak berhak mendoktrin orang lain dengan pengetahuan kita, atau retorika kita. Untuk lebih tepatnya, gue nggak boleh mengguncangg iman dan kepercayaan orang lain terhadap sesuatu yang membuat mereka bahagia, suatu kebenaran yang mereka percaya. Mereka akan belajar sendiri kalau ternyata argumen mereka salah melalui seleksi alam, dan bukan kita yang seharusnya mematahkan kebenaran mereka.
Pembicaraan sampai kepada contoh tentang para mahasiswa temen-temen gue yang terlibat NII, suatu aliran agama Islam yang menuntut banyak para pengikutnya untuk tujuan global yang menurut gue adalah suatu eksploitasi terhadap kerentanan psikologis manusia. Menurut Asep, mereka harus dibiarkan saja dalam kepercayaan mereka dan dogma-dogma mereka, karena mereka menemukan kebahagian dan Sanctuary di situ. Sampai situ, pernyataan gue masih sama: gue nggak bakal diam, gue bakal terus berkoar dengan argumen-argumen gue.
Kenapa? Karena gue percaya bahwa dengan berbicara tentang kenyataan yang pahit, dan realitas yang gue percaya bener-bener ada, karena didukung argumen yang jelas, orang akan lebih memiliki pilihan untuk memilih variabel-variabel lain dalam hidup, dan membuatnya lebih dinamis (di mata gue). Gue suka melihat kedinamisan.
kalau Asep sang Darwinian itu masih berpikir kalo semua orang harus belajar sendiri, dan kalah dalam argumennya sendiri, dan gue nggak boleh campur tangan, gue setuju. Gue nggak campur tangan, tapi campur kata. Yang gue kasih dalam saran-saran gue (atau lebih ke doktrin) bukanlah suatu ultimatum atau keharusan tetapi pilihan dan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat dipilih oleh manusia.
Gue percaya kalo manusia bebas memilih. Tapi untuk bisa melihat pilihan itulah yang sulit. Mungkin orang boleh bilang, “Gue nggak mau denger omongan lo, saranlo jelek dan ngerusak semua kepercayaan gue.” Gue setuju sama itu. Elo boleh milih, mau dengerin gue apa nggak. Sama kayak elo boleh milih, mau mabok terus sampe elo mati dan nggak punya pilihan untuk sadar, atau mau mabok sambil memiliki pilihan untuk sadar kapan aja.
Gue percaya kita semua mabok. Bahkan orang yang mengaku paling sadarpun mabok. Kiai pada mabok dogma, perempuan indonesia (kebanyakan) pada mabok patriarki, feminis mabok argumen, pejabat mabok duit, elo mabok, gue mabok, kita semua mabok. Tapi mabok yang paling ideal menurut gue adalah waktu elo mabok elo sadar lagi melewatkan pilihan-pilihan yang lain. Waktu elo mabok, elo bisa nangis mikirin orang yang lagi elo rugikan. Waktu kiai mabok dogma ia bisa miris mikirin perempuan-perempuan awam yang di tindas semitisme patriarkis, waktu pejabat mabok dia bisa nangis ngeliat anak2nya pada giting, atau konsumerisme gila, sementara rakyatnya sengsara, waktu feminis mabok ia bisa empati pada para laki-laki yang terjebak konstruksi patriarkis dan pada sarap karena nggak bisa jadi breadwinner buat keluarganya. Mabok yang sadar adalah hal yang menghubungkan kita satu dan yang lain, dan membuat kita bisa memilih yang lain, atau tidak memilih sama sekali, tetapi tetap terhubung satu sama lain.
Emosi adalah kesadaran dalam mabok itu. Emosi adalah ikatan itu antara satu sama lain. Ketika ada teman gue curhat malem tentang masalah cintanya, gue bisa ikut nangis, ketika orang terdekat gue memaksa cweknya untuk aborsi dan ceweknya mutusin dia, gue bikin dia nangis dengan rasa bersalahnya. waktu dia nggak ada, Gue nangis lebih keras dari dia sendirian. Waktu Nonton teater penuh penjiwaan, dan aktornya menunggu dijemput kereta kencana ke alam kematian, gue nangis. ketika Gema main “Lelaki dibawah” dan terjebak absurdisme, gue nangis. Waktu tmen-tmen gue dapet jalan buntu gara-gara dikejar-kejar NII ampe dia musti cuti kuliah, gue nangis. Waktu sodara deket gue kena AIDS dan masuk rumah sakit untuk keberapa kalinya gue nangis, waktu seorang yang gue sangat hargai mengkhianati gue, gue nangis sekaligus ketawa buat dia.
Nangis gue adalah setiap sayatan yang dirasakan orang-orang itu gue rasain sendiri. Elo seneng elo nangis, elo terlalu sedih elo nangis. Dan pilihan-pilihan yang gue kasih kepada mereka dengan cara yang mereka nggak suka, adalah suatu cerminan betapa gue sayang pada setiap mereka. Betapa gue terhubung sama mereka. Dan itu adalah urusan pribadi gue, seperti perasaan mereka, kepercayaan mereka, dan iman mereka. Gue berhak bicara, tapi yang milih mereka. Gue berhak menggali perasaan gue sendiri dan ngamuk-ngamuk dan nangis dengan cerita mereka, tapi itu badan gue yang sakit, itu suara gue yang serak, itu mata gue yang nangis. Semua gara-gara gue terbawa sama mereka. Dan itu indah.
Gue juga udah siap dengan tindakan gue. Ketika esei ini dibuat, gue udah kehilangan dua temen gue yang meyatakan: “Gue nggak mau ngomongin masalah gue ama elo lagi. terima kasih. gue tau elo sayang ama gue. gue bakal melakukan kesalahan yang sama tapi gue bahagia. gue bakal nyesel belakangan tapi biarin gue bahagia.” SIP! Mereka akan masuk surga semuanya. Walau mereka lupa: SURGA ADALAH KLOSET YANG BERMUARA PADA NERAKA. Tapi bukankah semuanya begitu. Habis terang ditelan gelap, habis bahagia ditelan nestapa. C’est la vie!
Dan gue masih akan berkoar. Bukan untuk memberi mereka suatu salvation, tapi untuk membukakan pintu neraka pada mereka. Neraka yang penuh kemabukan anggur darah dan roti daging. Gue rela mati untuk neraka itu, karena di neraka itu, mereka akan menemukan pilihan-pilihan, dan masuk surga kapanpun mereka mau. Gue nggak akan diam dan membiarkan Tuhan menghubungkan gue sama mereka dan membiarkan alam menjadi determinan. Gue akan jadi bagian dari alam, dari Tuhan, yang secara dinamis akan membuka kemungkinan-kemungkinan itu. Menurut gue itu baik. Kalo menurutlo gue salah, ayo argumen. Kita ke Neraka sama-sama dalam suatu percakapan yang indah.
Dan kesimpulan akhirnya:
kita hidup untuk berpesta-pesta dengan anggur dan roti,
Kita akan selalu mewarnainya dengan cinta dan benci
Kita akan selalu bermain dengan rasa di bumi
Jika kau tak mau merasa biarlah kau mati
Terkuburlah di tanah menjadi bibit yang abadi
Tak berkembang, terisolasi, dan tersangkut di toilet surga
Aku tak akan mati
Aku abadi
Seperti Socrates yang diracun
Munir yang dibungkam
Yesus yang disalib
dan lahir kembali dari selangkangan Zeus
Seperti
Dionysus