Archive for April, 2007

Sebuah Percintaan Yang Tak Berakhir

Monday, April 23rd, 2007


 

 

Adalah susu hangat di saat dingin

dalam mug putih tertoreh namamu

 

Adalah lembayung senja di pantai nelayan

 bayangan
pejalan laut di tepi mentari

 

Adalah mega-mega yang bergerak dan seringkali bertemu

seperti genggaman tangan kita

 

Adalah lagu, restoran, jalan di tengah gerimis,

dan kenangan-kenangan manis

 

Adalah seribu mimpi, khayalan, dan semoga benar kenangan

Kugenggam tanganmu dan kubisikan
di telingamu:

 

“Aku rindu padamu, sudikah matikan cahayaku?

agar ku redup, dan kau menyala terang:

 

di sini…”

 

 

 

Caci-makian

Thursday, April 19th, 2007

Waktu muda bilang,
“Anjing!”

Waktu tua bilang,
“Astaghfirullah!”

artinya secara pragmatis
sama: Sialan!

Orang Indonesia bilang,
”terkutuk kau!”

Orang Inggris bilang,
”Goddamnit!”

artinya secara logika
sama: Aku Tuhan yang mengutukmu!

Tiba

Sunday, April 15th, 2007


Tiba-tiba kita tersentak, sayang

Hatiku berubah haluan

Apa bisa terperi lagi

Jika waktu sudah nangis?

.

Kesadaran datang belakangan

Seperti halnya penyesalan

Tapi aku tidak menyesal, sayang

Hanya kering hampa karena manis telah
sepah

.

Kalau kau masih ingin jalan mari kita
kenang

Kalau kau masih ingin cinta mari kita
bayang

Kalau kau masih ingin aku maaf kutak
sayang

Sudah letih benar ini badan sperti tak
bertulang

.

Tak ada yang salah di sini

Kalau bukan aku mungkin kau yang pergi

Sayangnya kita mabuk seringkala dan
sadar kadangkali

Padahal buah maja tertelan setiap hari,

.

Jadi sampai kapan baru jera?

Hingga payah semua daya?

Sampai hilang semua kenang?

Ketika pahit semua rasa?

.

Sudahlah, lebih baik kau cari kenalanku

Ini nomor teleponnya, ia seorang
psikolog

.

Margonda, entah tanggal
berapa

Danau Janji

Saturday, April 14th, 2007

Kau bilang:

“Payahlah kita, jika begini

Tak akan menyatu perih ini”

.

Kau menagih janjiku dulu

Tuk membawa kau dan aku

segera pergi jauh menuju

dan hilang dalam waktu

.

Tak bisa kuberkata apa

Janji tinggal janji

Namun ku tak jera

Tuk terus berjanji

.

Belum lagi sempat terpenuh

Janji baru sudah tersauh

Akh, celaka! Tepian menjauh!

.

Tapi janganlah menangis, sini kau ku
rangkul,

Tak perlu ingat jalan pulang, karena
rumah

kelahiran kita adalah awal ketersesatan
ini

.

Sudahlah, terlanjur jauh kita meniti

Tak perlu kau tambah air danau ini

Dengan membuang indah telaga matamu

.

Aku janji akan kupenuhi janjiku

kita pasti akan menghilang, sayang

Saat kita sudah menemukan

Kau dan aku

Margonda, 5 April 2007