Archive for May, 2007

I

Thursday, May 31st, 2007

Chairil Anwar

I

When
my time comes

I
won’t have nobody

seduce
me

including
you

.

No
use of those sadness

.

I am
a wild beast

from
its estranged herd

.

Let
the bullet cross my skin

I
will roam in vain

.

With
wounds and poisons I took my run

Until
the pain is gone

.

And
I wouldn’t care less

I want to live another
thousand years

.

Translated by Nosa

Terkutuklah Para Perokok di Seluruh Jagad!!

Thursday, May 31st, 2007

Menyambut hari anti tembakau
sedunia sudah saatnya kita bertindak untuk menghentikan rokok. Rese’ banget kan
perokok-perokok yang ngerokok di tempat umum itu! Gue ga usah sebutin alasan
kesehatannya, gue yakin elo pada tahu. Tapi yang jelas merokok itu tidak berprikemanusiaan!
Elo bayangin asepnya yang bikin perih mata orang lain! Bikin orang lain yang kaga ngerokok kena kanker
paru-paru! Bikin ibu hamil anaknya pada idiot! Makanya orang indonesia Idiot
semua, karena bonyoknya ngerokok! Perokok itu penjahat-penjahat yang harus
dibabat dari muka bumi!!!

 

Anak UI katanya intelektual, intelektual mustinya
tahu kalo rokok tuh nggak bagus buat elo dan orang lain! Anak UI mesti pinter hidup!
Daripada elo ngerokok mendingan elo belajar terus biar bisa kerja, terus korupsi!
Mendingan elo nonton sinetron yang bikin otaklo goblok! Mendingan elo belajar
berpolitik biar bisa jadi pejabat BRENGSEKS suatu hari anti! Daripada elo
ngerokok mendingan elo bilangin kuli-kuli, tukang becak, orang2 yang gajinya
dibawah UMR untuk berhenti ngerokok, supaya mereka bisa lebih hemat duit yang
pada dasarnya juga cuma cukup buat makan dan beli rokok, dan mereka bisa stress
semua karena ga ada sublimasi atas hidup mereka yang cuma akan Nguli sampe mati
karena duitnya ditilep penguasa, dan semakin banyak orang gila yang nangkring di
UI! Mendingan habisin semua rokok di negeri ini, toh kita negara sejahtera yang
masalahnya CUMA ROKOK! ga ada korupsi, ga ada bencana alam, dan ga ada
lain-lain! Ini doa kita sebagai Gerakan Anti RokOK PANuTan rakyAT (GAROK PANTAT!):

 

- Semoga semua perokok dipajang kayak binatang
ragunan, seperti yang dilakukan di ruang perokok plaza EX dan ruang Rokok dosen!
Toh mereka juga bukan manusia, tetapi sejenis Bakrie (babikus lumpurus lapindonus)

- Semoga semua Perokok kapok dan ga mao lagi beli
rokok!

- Semoga rokok dilarang oleh pemerintah yang bikin
larangan pornografi, larangan bicara bahasa Indonesia yang jelek, larangan
iklan luar negeri, dan segala larangan yang rapat pembuatannya minta dana
rakyat trilyunan rupiah supaya bisa studi banding antar mal di luar negeri!

- Semoga produsen rokok bangkrut semua karena ga ada
yang beli!

- Semoga ratusan ribu buruh perokok yang tangannya
berlumuran darah para korban kanker dan penyakit paru-paru pada miskin semua
dan mati kelaperan! Toh mereka goblok2 ini, pendidikan cuma SD, dan cuma bisa
ngelinting rokok!

- Semoga Indonesia dikuasai Partai Kangen Sulay, dan
demokrasi dimatikan saja! Tidak efektif, dan belom siap diterima di Indonesia
yang masih seneng Kangen Band! MATILAH KALIAN PEROKOK!

Menghilangkan Gema

Wednesday, May 23rd, 2007

buat anak lelaki Mawardi

Gedung teater itu tidak bersahabat pada
aktornya

Setiap teriak ia teriakan balik

setiap isak ia isakan balik

setiap tanya ia tanyakan balik

.

Lalu apa yang terjadi pada setiap lalu?

Ia lalukan balik

seperti melagukan setiap lagu

seperti memerihkan setiap perih

seperti melukakan setiap luka

.

Seperti memanusiakan setiap manusia…

.

Maka binatang harus pada awas

sekali masuk termanusiakan dikau

.

kecuali kau bisa menghancurkan atap di
atas panggung

dan membunuh setiap tercipta gema dan
gaung

.

sehingga terlihat purnama bersinar
racun

bahkan curutpun bisa sebuas serigala

.

Orange, 2007

Dan Farajmu Berkilauan Di Ujung Malam

Wednesday, May 16th, 2007

Dan farajmu berkilauan di
penghujung malam

Ialah cahaya bukit sina
yang membawa peradaban

darinya bintang-bintang
mati dan semesta dimulai

aku yang serpihan anai
membentuk diri

.

Aih,

Dan farajmu yang
berkilauan di penghujung malam

di antara kedua belah
pahamu aku berserah

membiarkan diri berdansa
dengan anggun

diiringi gending-gending
waktu

yang melayangkan partikel
udara

.

nafasku,

jiwa yang tubuh memompa
dirinya sendiri

terus berlari, mengayuh
terengah untuk mati

hanya tuju kau, sayang,

sayang,

sayang

 

aku

sayang

kau

.

hingga waktu
berhenti dan hatiku tak lagi di sini

hingga mati terlewat dan
akhirat tersibah

.

aku akan terus menuju

ke farajmu yang berkilauan

hingga di penghujung malam

sayang,

.

aku

                sayang

                                    kau

.

Margonda,
2007

Biarkan!!

Wednesday, May 16th, 2007

Luka yang kau balut perban

sudah bernanah dan
membusuk

.

Amphetamin & Heroin

hanya menidurkan rasa

tapi tidak hilang aroma

yang menyebar beterbang

di seluruh ruang

.

Setiap kau buka balutan

dan ganti perban baru

radang menggigit
sekerjap

dan mulai lagi kau
kulaknat

.

Padahal darimu seakan
harapan

tak pernah habis

.

Sementara ini luka
melubang

memakan semua asa

.

Baiknya kau lepaskan saja
aku

dari rawatmu, kasih

.

Dan biar arwahku
yang mencintaimu ruah;

bukan tubuh penuh luka ini

.

Pergilah, sayang,

dan biarkan aku mati

dalam sepi

.

Margonda,
2007

Sajak Pemecah Kesepian Abadi

Wednesday, May 16th, 2007

Kawan,

Kadangkala, dan memang
hanya kadang kala

Kita harus menyerah dan
kembali

Pada suatu cerita
percintaan yang picisan

Dan sederhana

.

Dan mulai merasakan hidup.

.

Kadangkala, dan memang
hanya kadangkala

Kesederhanaan adalah
hal yang paling sulit ditemukan

Seperti tikus
mencari jalan keluar dari labirin

Hanya dengan membaui

.

Dan mencoba merasakan
hidup.

.

Kadangkala, dan memang
hanya kadangkala

.

2007

Dinding Mendingin

Wednesday, May 16th, 2007

Dinding mendingin

kala panas caya mentari
mengelam malam

.

dan kamar kita pun
menyejuk, sayang

dengan aku yang
membeku sendiri di dalamnya

merindu

.

Perlahan-lahan,
pertengkaran hari itu menguap

ditiup angin yang menjilat
tirai jendela kita

dan menyusup ke dalam
hatiku, melalui rongga-rongga rambut

di kepalaku.

.

Di dalam sana, angin yang
kini menguasai ruang kosong

mencairkan es dalam
aku, melelehkannya di kedua mataku

.

seakan tidak pernah
belajar, bahwa hidup adalah derita

dan ada tiada kau, ia
tetap bersua

.

Seakan tidak pernah
belajar, aku ulangi lagi sayatan kata panas

yang menelusuri
lembah-lembah cinta kita

dengan lahar
seteruan

.

Tapi tidak akan ada
maaf kali ini

tidak dariku

dan semoga tidak darimu

.

Cinta ini belum selesai,
dan takkan pernah selesai

paling tidak, aku harus
membaginya dengan orang lain

selain kau

.

kerna hatiku padamu

takkan habis dimakan
pertengkaran

.

namun kita yang akan mati

menulang di dalam merapi

mengulang dengan meratapi

mengakhiri dalam sepi

.

Aku sayang kau

pergilah, cari ruang baru

.

yang ini terlalu pengap
untuk kita

takkan ada nyawa tertiup
di sini

.

2007

Ketika Waktu Mati Telah Lewat

Wednesday, May 16th, 2007

untuk Maria

.

Kedewasaan selamanya bagiku

adalah kemudaan abadi

ketika segenap ruang dan
waktu

menyatu dalam aku

.

dan berhenti

.

Kematangan selamanya
bagiku

adalah proses berpikir

pabila henti sudah itu

artinya matilah aku

.

dalam hidup yang busuk

.

Ketuaan selamanya bagiku

adalah buasnya mencinta

purba kekhilafan aku

tak pernah salah

.

untukku juga untukmu

.

Kebijaksanaan selamanya
bagiku

tak usah bicarakan itu

para filsuf sudah lama
mati

kita yang di sini
cuma bisa copy

.

dan berfoya-foya

di dalam kepedihan mereka

mencari kedewasaan,
kematangan,

menghindari ketuaan,
dan layaknya Tuhan

semakin kau mendekati
kebijaksanaan

semakin pula ia menjauhimu

.

Margonda,
2007

Sepasang Sepi

Wednesday, May 16th, 2007

untuk
Dini, Erik & Sisie

.

Malam ini lagi-lagi

sepi-sepi begitu ramai

pada berjalan
sendiri-sendiri

.

Padahal kurang baik apa?

hujan sudah menyentuh langit

dan keringnya hati sudah terisi

.

di bawah sepayung

mengapa kita berdua saling
asing

seperti sepi-sepi

yang ramai-ramai

berjalan sendiri-sendiri

.

dan sampai kapan

aku harus menyangkal
kekagumanku

.

ketika bulir rintik hujan

memutiara di rambut
indahmu

dan bibir ranummu
menggeletar

melawan dingin

.

sampai kapan pelukan
hangatku

hanya menjadi draft di
kepala?

.

aku terbakar

dan kau membeku dalam sepi

.

untuk apa?

’aku punya kekasih’,
katamu.

.

ya, kau punya kekasih

kekasih sepi, yang
mendambakan sepinya kau

dan dalam hampanya sepi
kau mengharapkan cinta?

.

betapa bodoh sepimu!

.

dan, ironisnya

betapa bodoh aku…

mengharapkan memelukmu

perempuan getir, yang
menyepikanku

dalam kesepiannya sendiri

..

kau dan aku

adalah sepasang sepi

yang tak mensyukuri
hidup

.

padahal hujan sudah
menyentuh langit

dan kita sudah sepayung

.

 

Margonda,
2007

Pantai Malam

Wednesday, May 16th, 2007

untuk
mereka yang merasa tahu

 

 

Angin laut membawa percakapan kita jauh

Malam itu di pinggir
pantai mereka mencuri setiap kata

tanpa menyisakan
sedikitpun pada kita kecuali satu rasa

yang takkan pernah
kupercaya ternyata masih bisa terpenuh

 

.

Aku mencintaimu

dan ini takkan
terlisan

hanya tertanam dengan
kokoh

 

.

Pantai malam rumah kita,
sayang

deburannya mendenyut di
nadi kita

karangnya mengeras di hati
kita

dinginnya menghangat di
pelukan kita

 

.

Dan lampu kota perlu
kita ajari

cara kau, aku dan
cinta mahabesar kita

bercahaya malam itu

 

.

Sayang hari ini
pantai kita jauh di utara

dan kau pun hendak
mengembara

meninggalkan
kenangan di hati kita

yang kau yakin ’kan
berakhir

 

.

Ingin kau tinggalkan
dengan manis

tanpa pertengkaran, tanpa
kebencian

tanpa apa kecuali
cinta, cium, dan pelukan

 

.

Tapi rasakan sendiri detak
jantungku

apa kau tahu?

rasakan sendiri karang
hatiku

apa kau tahu?

rasakan sendiri perihku

apa kau tahu?

 

.

Selamanya kau dan aku
takkan pernah tahu

karena perpisahan
ini menyisakan badai:

membawa kata kembali pada
mulut kita,

namun cinta yang
dulu tiba tak mau dikembalikan

 

.

Aku pun kembali menunggui
subuh

sendiri di pantai yang
menghangat

kerna matahari mulai
menarikan caya panas

sementara membekukan
hatiku tanpamu

 

.

Aku akan mati penasaran,

menanti malam
menjelang

walau aku tahu kau takkan
datang

 

.

2007