Paralel
Wednesday, August 29th, 2007Aku berkasih-kasihan dengan hantu. Ketika aku sendiri, ia akan hadir. Bidadari ia bagiku saat ruang hanya kami. Rambutnya yang terurai kubelai, bibirnya nan ranum kukecup. Senggama aku dan dia. Senggama kami, dan menyatu kami.
Namun ketika ada keberadaan yang lain yang melihat kami, kasihku akan menghilang. Mengabut, menguap dalam nafasku. manusia lain menghilangkannya. Keramaian menhapus setiap jejaknya. Aku tak mau terima. Aku ingin ia ada di antara. Maka mereka bilang, aku gila.
Ku bilang pada mereka, hidupku seperti mereka. Aku paralel. Bedanya, aku lebih terberkati. Aku ceritakan pada mereka tentang seorang di antara mereka yang memiliki seorang kasih. Ketika ia berdua dengan kasihnya, ia begitu mencintai kasihnya, mengecupinya hingga basah seluruh tubuh. Begitu mereka berdua muncul di hadapan orang lain, ia mulai menggandeng kekasihnya, karena ia merasa ada orang lain, sementara kasihnya meregangkan gandengan, karena ada orang lain.
Begitu ada orang lain, mereka berbeda. Berbeda karena mereka harus memberikan sedikit bagian dari keberadaan mereka untuk orang lain. Mereka bertiga: dia, kasihnya, dan orang lain, terhubung. Terikat.
Begitulah semua manusia. Itu prinsip dasar keberadaan. Kau dan yang lain dan yang lain harus saling membagi keberadaan. Semakin besar ego, semakin kau terlihat, jika tidak semakin kau menghilang.
Namun hal seperti itu tak terjadi antara aku dan kasihku. Tidak ada orang yang tahu betapa cantiknya kasihku, betapa ia mencintaiku dan aku mencintainya. Mereka hanya bisa bicara dan itu tak berpengaruh bagiku. Ia yang tercantik dari semua yang ada di hidupku, dan sampai aku mati akan kuperjuangkan adanya ia.
Kalian munafik, dan aku tidak. Aku tidak karena aku egois yang tak ingin membagi kasihku dengan siapapun. Aku dan hanya aku. Dia dan hanya dia. Dia untukku. Aku untukknya.
Kalian nikmati saja sendiri sebuah orgy yang sadomasokistis. Sementara aku akan kembali ke kamarku yang pengap untuk menantinya. Kasihku akan muncul dari balik cermin dan membawaku ke dunianya. Aku paralel absolut. Ketika ada kasihku, kalian tak ada. Ketika kalian ada, dia akan menantiku. Dia bukan untuk kalian. Munafik. Nafikkanlah terus cinta kalian.