Kisah Petani Anggur di Tengah Jakarta: Bags Donk!
Wednesday, September 26th, 2007
Sudah hampir tiga bulan ini aku menjadi peng-anggur-an. Di kota
Jakarta yang luas ini, aku memegang ijazah Sarjana Sastra dari salah
satu universitas ternama, dan selama satu minggu ini aku masih
berkeliling untuk wawancara kerja di berbagai tempat. Hari ini aku
wawancara di sebuah kantor majalah pria di Rasuna Said, yang
mengharuskan bisa kerja tujuh hari seminggu dengan bayaran 800 ribu
sebulan tanpa transport. Situ kira sini punya pohon duit? Setelah itu
aku langsung ke Setia Budi untuk wawancara di sebuah perusahaan saham
yang mencari broker yang harus punya modal minimal satu juta rupiah,
atau ikut training tanpa bayaran selama tiga bulan. Gila, sampeyan?
Broker kok bikin broke? Tanpa kusadari, jam di handphone sudah
menunjukan pukul 17.15. Dan seperti biasa, Jakarta yang sedang
dibenahi gubernur Fauzi Bowo masih macet. Mungkin nama gubernur itu
harus diganti Fauzi Boro: boro-boro dibenahi, jadi kota saja belum.
Coba saja tanya dua arsitek tata kota Jakarta, Picasso dan Affandi.
Mungkin dulunya mereka mau bikin model kubisme terbesar biar masuk
museum rekor.
Kembali ke perjalanan pulang, setelah masa-masa kuliah berakhir, aku
merasa seperti sekrup yang sedang mencari mesin. Mana mesin yang
cukup untuk aku masuki sampai aku karatan dan dibuang. Sebenarnya
semenjak kuliah aku sudah mulai bekerja paruh waktu, baik menjadi
guru privat, penerjemah, desainer grafis, bahkan badut di sebuah mal.
Dan bukanlah hal yang sulit untuk sekedar mengirim surat lamaran dan
wawancara. Masalah timbul ketika aku merasa pesimis atau takut
direndahkan. Aku sadar egoku tinggi sekali karena aku merasa bisa
segala hal. Aku menguasai komputer grafis dan animasi, aku bisa
menulis baik fiksi ataupun akademis dengan baik, aku bisa menggambar,
membuat storyline dan storyboard, bahkan mengoperasikan studio
rekaman. Satu hal yang sampai sekarang aku tak bisa: kompromi dan
memulai dari bawah.
Aku
lebih suka dipermalukan jadi badut selama tiga hari berteriak-teriak
mengiklankan produk elektronik di Pondok Indah mal sementara
ditertawai oleh junior satu kampusku; atau dipermainkan seorang anak
sekolahan dalam kelas privat di rumahnya untuk satu bulan, yang
penting aku dapat bayaran yang cukup, tidak terikat, dan yang pasti
tidak mengganggu kesenanganku yang lain, seperti bermain musik atau
berteater. Ah, seandainya musik dan teater bisa untuk hidup! Supaya
kalian tahu, aku juga seorang gitaris blues amatir dan seorang pemain
teater amatir. Amatir. Artinya aku tidak bisa menjadikan keduanya
pekerjaan. Musik blues tidak menjual, dan teater di Indonesia
bukanlah profesi. Aku harus bermain sesuai buku, sesuai catatan,
sesuai ijazahku, kalau mau dibilang professional.
Jadi
di sinilah aku. Menjadi seorang pengelana kota dengan kemeja
satu-satunya yang kupunya, celana panjang dengan benang yang
klewer-klewer hampir bolong, dan sepatu kulit pinjaman yang
mulai rusak. Dengan map merah di tangan, aku tak ubahnya seorang
sarjana muda seperti di dalam lagu Iwan Fals: menderita, lelah, dan
pengangguran. Dan semua kesalahan bukan pada pemerintah Indonesia
yang korup, atau institusi pendidikan yang bobrok, atau orang tuaku
yang berhenti kasih biaya kuliah semenjak semester empat. Kesalahan
murni ada pada diriku sendiri yang berperang dengan diriku yang lain.
Untuk apa? Untuk sebuah kehidupan yang ideal.
Lalu
aku bertanya, kehidupan ideal seperti apa yang kuinginkan? Setelah
beberapa lama berpikir di dalam bis Metromini Setiabudi-Pasar Minggu
yang sumpek, aku jadi sadar, bahwa yang ideal bagiku adalah bekerja
apapun yang kumau, asal uang tidak habis. Aku hanya ingin menulis
fiksi, membuat lagu, dan bermain Teater. Sesederhana itu. Yang lain
aku tak mau peduli. Apa bisa?
Tentu
tidak. Aku tahu itu. Semua orang tahu itu, dan semua orang menuntut
itu dari dirinya dan dari diri orang lain. Semua orang disekelilingku
seperti menuntutku untuk menghasilkan uang sendiri dan menjadi mapan.
Keluargaku, khususnya mamaku, selalu menelpon jika ada lowongan
pekerjaan reporter TV. Mama ingin aku terjun di bidang media, karena
ia melihat banyak potensiku di situ. Sementara Papaku terus mendesak
supaya aku ikut ujian pegawai negeri, diterima, dan makan gaji buta
hingga aku mati. Menjadi birokrat. Pacarku lain lagi. Ia sedapat
mungkin tidak mau memaksaku untuk bekerja, tetapi dari
tindak-tanduknya, ia ingin aku menjadi seorang pria mapan yang tidak
lagi menyusahkannya. Ia memberiku nyaris segalanya, dari cinta hingga
pinjaman uang tanpa bunga (yang bahkan belum kubayar sepeserpun),
dari seks hingga teks-teks lowongan kerja untukku. Dan semakin aku
berhutang padanya, teman-teman, dan orang tuaku (yang juga berhutang
untuk membiayai si pengangguran ini), semakin aku merasa aku harus
bekerja. Hingga aku harus lupa. Lupa bahwa aku ingin berkarya, lupa
bahwa masih banyak yang bisa kubuat, lupa bahwa masih banyak ide-ide
yang ingin kugali, masih banyak buku yang ingin kubaca, film ingin
kutonton, barang ingin kubeli, dan yang paling parah, aku lupa bahwa
aku masih pengangguran.
Ya.
Semua pikiran dan tekanan dari semua orang yang cinta dan peduli
padaku membuatku lupa akan segalanya, bahkan akan tuntutan mereka
kepadaku. Maka aku berakhir di sini, di antara keringat orang-orang
Jakarta di Metromini. Semua orang harus bekerja, semua orang harus
memiliki perannya masing-masing dan berusaha bertahan hidup dengan
menjadi seperti itu. Dan semua orang harus lupa barang sebentar atau
selamanya. Harus.
Aku turun di Pasar Minggu dan naik angkot menuju Depok. Menuju sebuah
kamar kos yang bayarannya pun hutangan dengan teman dan/atau pacar.
Disebelahku duduk seorang mbak-mbak dengan seragam teller bank
yang tadi juga satu bus denganku. Hari sudah malam, kulihat di jam di
handphoneku (yang juga pinjaman dari teman pacarku), sudah pukul
20.00. Dan Mbak di sebelahku tertidur dengan muka sangat lelah. Rumah
di depok, bekerja di Setia Budi, paling tidak ia berangkat dari rumah
pukul 05.30 supaya tidak terjebak macet dan bisa sampai kantor pukul
8 pagi. Pulang pukul 5 sore, kena macet dan sampai rumah pukul 20.30.
Setiap hari seperti itu, belum kalau ada lembur. Hidup yang keras,
perjuangan yang keras dan kerja yang keras. Untuk apa?
Huh.
Sudahlah. Aku ketuk atap angkot, dan berhenti bukan di tujuanku. Aku
berhenti di daerah Lenteng Agung untuk mampir di rumah seorang teman
yang pasti memiliki banyak cimeng dan minuman keras murah. Aku tahu
apa yang harus kulakukan sekarang. Daripada aku lupa sambil pusing
dan tertekan, lebih baik aku lupa sambil mabuk, pusing, tapi tidak
tertekan. Tahi semuanya. Hidup keras kerja keras seperti api dilawan
api. Seperti dari neraka biasa menuju neraka special dengan wijen dan
keju. Tetapi jika kau hidup keras lalu minum dan mabuk lebih keras
lagi, kau akan mendapatkan surga dulu baru ke neraka jahanam. Tawaran
yang cukup menarik, lebih baik kuambil. Bags donk!!
Salak,
September 2007