Mereka Yang Bergumul Di Tiang Gantungan Tak Bisa Bicara Fasih
Kau yang menggantungkan kata-kata pahit di leherku
Menarik tambang lusuh tiang gantungan di atasku
Kencangkan ikat leherku sekuat kau mengukir katamu
.
Nikmatnya kurasa kepahitan persenggamaan ini
Tanpa mantra tanpa tantra melebihi seumur hidup
Jika ini penyatuan terakhir maka rela aku mati
Tapi kumohon jangan biarkan hidupku redup
.
Niscaya ku kutuk kau dengan diksi-diksi buta
Seperti secarik peta fenomenologis Husserl
Atau turunan rumus-rumus fisika kuantum
Segala yang menawarkan kepastian semu
.
Kau dan aku maha kecil kata mereka
maka mati atau hidup kita tidak dihitung
Dan lebih baik memilih hidup
semata karena tidak ada ruginya
.
Kau dan aku maha kecil kata mereka
Apa kata semut, virus, bakteri, dan atom
Malu mereka dengan tuhan-tuhan mahakecil
yang hidup jauh lebih lama dari mereka
.
Maha kecil Maha tua Maha semesta
Itulah kita berdua
dan dalam sebuah senggama
Hidup adalah selamanya
.
Ikat kata-kata lebih erat di leherku
Tarik tambang lusuh itu lebih keras
Ikuti senandung nafas tenggorokkanku
Tark…Sin…Batz…in…Sas
.
—-Hari ini: