A Very Good Movie
Ada satu cara untuk menghadapi sebuah kenyataan pahit dalam hidup, di mana hasrat-hasrat kita tidak dapat terpenuhi, terputus atau mengalami keadaan di luar kendali kita. Kenyataan-kenyataan seperti putus cinta, ditinggal mati, atau semua keadaan yang membuat emosi kita meluap-luap, dari mulai yang paling marah, paling sedih, sampai yang paling senang. Semua yang membuat kita terhanyut dalam insting emosi kita, kehilangan akal kita, seperti mabuk di dalam sadar dapat kita bilang, a very good movie.
.
Satu hal yang harus disadari adalah masa kini itu ILUSI. Kita takkan pernah bisa menentukan masa kini karena ada suatu zat yang kita namakan waktu, yang terus berjalan dan mengikis kekinian kita, sehingga ia tak pernah ada. Dari sini yang tersisa adalah masa lalu dan masa depan, yang mana keduanya ada di dalam pikiran kita, baik ingatan, atau imajinasi. Dari pemaparan ini, maka kita sesungguhnya selalu hidup dalam sebuah film.
.
Film adalah suatu media yang diedit, diatur, dimanipulasi, dan dibingkai sedemikian rupa menjadi suatu teks. Teks yang menurut beberapa pengkaji budaya, adalah teks yang paling lengkap dari segi audio visual, sampai intertekstualitasnya. Jika dibandingkan dengan pikiran kita yang di dalamnya terdapat masa lalu (memori) dan masa depan (imajinasi), bahkan campuran keduanya. Maka film sesungguhnya adalah sebuah metafora yang cocok. Pikiran kita mampu merekam baik suara, gambar, situasi, bahkan perasaan. Selain merekam, yang merupakan fungsi dari memori, pikiran kita juga memiliki sebuah daya manipulasi dan imajinasi. Daya editing.
.
Contoh-contoh mudahnya adalah dua perasaan manusiawi yang sangat biasa: cinta dan benci. Cinta kesumat membuat kita melihat bayangan orang yang dicintai terus menerus, ingatan yang tak henti-henti, sebuah film yang diputar berkali-kali dan mengalami editing yang PARAH HIPERBOLISNYA. Keparahan editing terdapat pada asumsi kita terhadap orang yang dicintai, seakan kita benar-benar mengenal orang itu luar dalam, seakan orang itu adalah aktor di dalam sebuah film yang pemain sekaligus sutradaranya adalah kita sendiri. Keparahan editing juga membuat orang itu menjadi tidak real sama sekali. Ada yang membuatnya menjadi malaikat, bidadari/ra, bahkan boneka kesayangan. Hal yang sama terjadi pada benci kesumat, di mana kita membuat judgment dan stereotype mentah terhadap karakter seseorang, dan tak melihat sisi lain dari orang tersebut. Ini juga suatu proses editing yang parah dan memihak pada ideologi diri sendiri. Cinta dan kebencian yang banal dan sederhana tak lebih dari sebuah hasrat narsistik kita yang ada di dalam film pikiran kita.
.
Hukum ini berlaku untuk perasaan yang lain. Takut, sebagai salah satu pendorong kita untuk bertahan hidup, juga adalah bagian dari emosi di dalam film kita. Ketika kita takut, semua menjadi gelap. Seperti cinta dan benci kesumat, takut menyembunyikan akhir dari kita; membuat kita buta. Takut adalah semacam cara untuk menuju ke klimaks adegan dalam film kita. Takut membuat kita pasrah dan menyerah, membuat film antiklimaks dan tragis. Takut juga bisa membuat marah dan nekat, membuat film klimaks dan biasanya juga berakhir tragis. Biasanya untuk film dengan ending dimana tokohnya survive—anggap saja ending non-tragedy (saya tidak mau bilang happy ending, I just hate that phrase), biasanya si tokohnya menghadapi ketakutan di dalam pikirannya dulu, baru menghadapi kenyataan.
.
Berkaitan dengan ini, si tokoh tadi mengubah karakternya dari takut menjadi berani, dan langsung melakukan eksekusi yang sadar, bukan atas dorongan ketakutannya seperti nekat dan marah, tetapi atas dasar keberanian yang didapat dari pembunuhan karakter si musuh yang ditakuti di pikirannya dulu. Di sini karakternya berusaha membuat a very good movie untuk dirinya sendiri.
.
Inilah yang saya katakan sebagai cara untuk menghadapi ketidakmampuan pencapaian hasrat. Jadi ketika kita mengalami saat-saat paling memuncakkan emosi kita, sama artinya seperti tenggelam dalam sebuah film. Film yang sangat bagus sehingga membuat kita terhisap di dalamnya walaupun berakhir tragis, ataupun bahagia. Sampai kita mati pun, hasrat takkan pernah terpuaskan. Bahkan kebahagiaan akan menambah panjang daftar hasrat kita. Kalau tidak bisa dipuaskan, kenapa hasrat selalu ada di situ? Karena hasrat adalah energi listrik yang membuat kamera berjalan, dan pikiran kita adalah roll filmnya. Kita adalah aktornya, dan dalam beberapa adegan, menjadi sutradaranya. Sutradara keseluruhan film kita tentunya adalah Ia yang tak jelas namanya siapa dan apa bentuknya (orang sok tahu menyebutnya tuhan).
.
Untuk mengakhiri tulisan ini, saya akan sajikan beberapa potongan film saya: ketika melihat om saya mati karena AIDS, saya terdiam di lorong rumah sakit, menangis sambil mendengar orang-orang membaca yasin. Ketika mencapai trance dalam sebuah konser band, saya terguling-guling, dan merasa sangat bahagia. Ketika mencintai seseorang dengan tulus, saya suka sekali ketika merasa sakit karena berkorban untuk yang saya cintai. Ketika akhirnya putus cinta, saya menangis meraung-raung dan jadi anorexia selama beberapa bulan. Kesemuanya sudah lewat, dan semuanya adalah film yang sangat bagus. Inspiring sekali. Dan yang paling saya syukuri sekarang ini adalah keberadaan dan hasrat saya, karena keduanya membuat saya ‘terpaksa’ harus selalu membuat film di dalam studio editing pikiran saya. Film-film luar biasa yang selalu saya rekam sampai saya mati dan saya edit untuk Anda nikmati di dalam karya-karya saya (dalam cerita lisan, prosa, puisi, dan lagu-lagu yang saya buat). Dan siapa tahu, jika saya cukup nekat di dalam hidup untuk merasakan segala sesuatu, untuk terus membuat film menarik di dalam pikiran saya, hidup saya bakal cukup menarik untuk orang lain membuat film tentang saya…
February 29th, 2008 at 10:17 am
anjriiiiiiiittt!!! brengsek lo nos
hehehhehe
March 1st, 2008 at 11:22 pm
auw!
i suka tulisan ini
endingnya mengingatkanku pada
syairnya jim morrison, “the movie”
The movie will begin in five moments
The mindless voice announced
All those unseated will await the next show.
We filed slowly, languidly into the hall
The auditorium was vast and silent
As we seated and were darkened, the voice continued.
The program for this evening is not new
You’ve seen this entertainment through and through
You’ve seen your birth your life and death
you might recall all of the rest
Did you have a good world when you died?
Enough to base a movie on?
muach
dj p0p
March 10th, 2008 at 2:45 am
skripsi gue kan soal jim. Sayang gue baru bisa memaknai sejauh ini sekarang….
Love the guy..