Dansa
March 10th, 2008 by wonderguitarMenikah,
Kawin,
Ngentot,
Senggama,
.
Cuma untuk ANJING dan BINATANG JALANG!
.
Manusia?
Kau dan Aku?
.
Kita berdansa
.
Tb. Simatupang, 2006
Jl. Madrasah, Margonda,
2008
Menikah,
Kawin,
Ngentot,
Senggama,
.
Cuma untuk ANJING dan BINATANG JALANG!
.
Manusia?
Kau dan Aku?
.
Kita berdansa
.
Tb. Simatupang, 2006
Jl. Madrasah, Margonda,
2008
Wahai orang-orang di atas kapal kertas
Menyembah Tuhan kertas dan hidup atas
kertas
Memantrai kertas merenungi kertas
Menulisi kertas menangisi kertas
.
Kertas dibawa nabi jadi suci
Kertas dibawa birokrat jadi laknat
Kertas dibawa sarjana jadi fana
Kertas dibawa maksiat jadi wasiat
Kertas dibawa mati apakah berarti?
.
Kapal kertas mengambang atas darah
500.000 orang mati di Rwanda kata
kertas
5.000.000 Yahudi mati dibantai Hitler
kata kertas
5 milyar mati kena bencana alam kata
kertas
Kata kertas
Akta kertas
Akta!
.
Akta-akta dipercaya
Akta-akta disembah
Akta-akta apakah nyata?
.
Pelacur mati di got, poskota kata
Lima anak dipelihara dan suami laknat
menjual dia
Apa poskota pernah kata?
.
Siapa peduli apa yang nyata
Toh kita hidup di atas kertas
Dan kertaslah yang paling nyata
.
Salak, September 2007
Untuk semua orang yang
kucintai yang membuatku terhenti
.
Dalam mata di mana hatiku tinggal
.
Setiap luka yang tertoreh di tubuhmu
Harus aku toreh pula di tubuhku
Setiap darah yang mengucur dari kulitmu
Harus kucucurkan pula dari kulitku
.
Dalam mata di mana hatiku tinggal
.
adalah mantera kemanusiaan
Yang membungkus jiwa dengan
keterasingan
Dan menciptakan sebuah narasi tragedi
Sebatas cinta dan sayangku padamu
.
Sebatas mata di mana hatiku tinggal
.
Uangmu adalah darahmu
Aku hidup daripadanya
Percayamu adalah dagingmu
Aku makan daripadanya
Cintamu adalah piutangmu
Aku hutang daripadanya
Hidupmu adalah darahku
Matikan aku daripadanya
.
O, inilah akhir mantera kemanusiaan
Yang mengantarkanku pada kematian
Supaya bersalah aku bebaskan
Dan darahmu bisa kubayar darahku
.
Dalam mata di mana hatiku tinggal
Mungkin kau takkan mengerti
Karena aku manusia dan kau malaikat
Apa daya jika cerita di sini terhenti
Bahasaku untukmu begitu pekat
.
Margonda, September 2007
Ada satu cara untuk menghadapi sebuah kenyataan pahit dalam hidup, di mana hasrat-hasrat kita tidak dapat terpenuhi, terputus atau mengalami keadaan di luar kendali kita. Kenyataan-kenyataan seperti putus cinta, ditinggal mati, atau semua keadaan yang membuat emosi kita meluap-luap, dari mulai yang paling marah, paling sedih, sampai yang paling senang. Semua yang membuat kita terhanyut dalam insting emosi kita, kehilangan akal kita, seperti mabuk di dalam sadar dapat kita bilang, a very good movie.
.
Satu hal yang harus disadari adalah masa kini itu ILUSI. Kita takkan pernah bisa menentukan masa kini karena ada suatu zat yang kita namakan waktu, yang terus berjalan dan mengikis kekinian kita, sehingga ia tak pernah ada. Dari sini yang tersisa adalah masa lalu dan masa depan, yang mana keduanya ada di dalam pikiran kita, baik ingatan, atau imajinasi. Dari pemaparan ini, maka kita sesungguhnya selalu hidup dalam sebuah film.
.
Film adalah suatu media yang diedit, diatur, dimanipulasi, dan dibingkai sedemikian rupa menjadi suatu teks. Teks yang menurut beberapa pengkaji budaya, adalah teks yang paling lengkap dari segi audio visual, sampai intertekstualitasnya. Jika dibandingkan dengan pikiran kita yang di dalamnya terdapat masa lalu (memori) dan masa depan (imajinasi), bahkan campuran keduanya. Maka film sesungguhnya adalah sebuah metafora yang cocok. Pikiran kita mampu merekam baik suara, gambar, situasi, bahkan perasaan. Selain merekam, yang merupakan fungsi dari memori, pikiran kita juga memiliki sebuah daya manipulasi dan imajinasi. Daya editing.
.
Contoh-contoh mudahnya adalah dua perasaan manusiawi yang sangat biasa: cinta dan benci. Cinta kesumat membuat kita melihat bayangan orang yang dicintai terus menerus, ingatan yang tak henti-henti, sebuah film yang diputar berkali-kali dan mengalami editing yang PARAH HIPERBOLISNYA. Keparahan editing terdapat pada asumsi kita terhadap orang yang dicintai, seakan kita benar-benar mengenal orang itu luar dalam, seakan orang itu adalah aktor di dalam sebuah film yang pemain sekaligus sutradaranya adalah kita sendiri. Keparahan editing juga membuat orang itu menjadi tidak real sama sekali. Ada yang membuatnya menjadi malaikat, bidadari/ra, bahkan boneka kesayangan. Hal yang sama terjadi pada benci kesumat, di mana kita membuat judgment dan stereotype mentah terhadap karakter seseorang, dan tak melihat sisi lain dari orang tersebut. Ini juga suatu proses editing yang parah dan memihak pada ideologi diri sendiri. Cinta dan kebencian yang banal dan sederhana tak lebih dari sebuah hasrat narsistik kita yang ada di dalam film pikiran kita.
.
Hukum ini berlaku untuk perasaan yang lain. Takut, sebagai salah satu pendorong kita untuk bertahan hidup, juga adalah bagian dari emosi di dalam film kita. Ketika kita takut, semua menjadi gelap. Seperti cinta dan benci kesumat, takut menyembunyikan akhir dari kita; membuat kita buta. Takut adalah semacam cara untuk menuju ke klimaks adegan dalam film kita. Takut membuat kita pasrah dan menyerah, membuat film antiklimaks dan tragis. Takut juga bisa membuat marah dan nekat, membuat film klimaks dan biasanya juga berakhir tragis. Biasanya untuk film dengan ending dimana tokohnya survive—anggap saja ending non-tragedy (saya tidak mau bilang happy ending, I just hate that phrase), biasanya si tokohnya menghadapi ketakutan di dalam pikirannya dulu, baru menghadapi kenyataan.
.
Berkaitan dengan ini, si tokoh tadi mengubah karakternya dari takut menjadi berani, dan langsung melakukan eksekusi yang sadar, bukan atas dorongan ketakutannya seperti nekat dan marah, tetapi atas dasar keberanian yang didapat dari pembunuhan karakter si musuh yang ditakuti di pikirannya dulu. Di sini karakternya berusaha membuat a very good movie untuk dirinya sendiri.
.
Inilah yang saya katakan sebagai cara untuk menghadapi ketidakmampuan pencapaian hasrat. Jadi ketika kita mengalami saat-saat paling memuncakkan emosi kita, sama artinya seperti tenggelam dalam sebuah film. Film yang sangat bagus sehingga membuat kita terhisap di dalamnya walaupun berakhir tragis, ataupun bahagia. Sampai kita mati pun, hasrat takkan pernah terpuaskan. Bahkan kebahagiaan akan menambah panjang daftar hasrat kita. Kalau tidak bisa dipuaskan, kenapa hasrat selalu ada di situ? Karena hasrat adalah energi listrik yang membuat kamera berjalan, dan pikiran kita adalah roll filmnya. Kita adalah aktornya, dan dalam beberapa adegan, menjadi sutradaranya. Sutradara keseluruhan film kita tentunya adalah Ia yang tak jelas namanya siapa dan apa bentuknya (orang sok tahu menyebutnya tuhan).
.
Untuk mengakhiri tulisan ini, saya akan sajikan beberapa potongan film saya: ketika melihat om saya mati karena AIDS, saya terdiam di lorong rumah sakit, menangis sambil mendengar orang-orang membaca yasin. Ketika mencapai trance dalam sebuah konser band, saya terguling-guling, dan merasa sangat bahagia. Ketika mencintai seseorang dengan tulus, saya suka sekali ketika merasa sakit karena berkorban untuk yang saya cintai. Ketika akhirnya putus cinta, saya menangis meraung-raung dan jadi anorexia selama beberapa bulan. Kesemuanya sudah lewat, dan semuanya adalah film yang sangat bagus. Inspiring sekali. Dan yang paling saya syukuri sekarang ini adalah keberadaan dan hasrat saya, karena keduanya membuat saya ‘terpaksa’ harus selalu membuat film di dalam studio editing pikiran saya. Film-film luar biasa yang selalu saya rekam sampai saya mati dan saya edit untuk Anda nikmati di dalam karya-karya saya (dalam cerita lisan, prosa, puisi, dan lagu-lagu yang saya buat). Dan siapa tahu, jika saya cukup nekat di dalam hidup untuk merasakan segala sesuatu, untuk terus membuat film menarik di dalam pikiran saya, hidup saya bakal cukup menarik untuk orang lain membuat film tentang saya…
Beck on 6Lyrics.com
Nosa,
Apa belum cukup seluruh kesakitan yang kau lihat?
Apa belum sakit semua luka yang tertoreh?
Apa belum habis torehan di kulitmu?
.
Kujawab:
Aku adalah seorang narapidana
Yang terpenjara di tembok kulit
Setiap hari yang berjalan lalu
Kutoreh di tembok kulit itu
.
Kulitku sendiri.
.
Nosa,
Apa saja yang dirasakan matamu?
Apa saja mulut yang kau dengar?
Apa saja telinga yang kau lihat?
.
Kujawab:
Mataku merasakan sesak
Tenggelam dalam lautnya
Mulutku mendengar perih
Teriakan kematian cinta-cinta
Telingaku melihat tangis
Ketidakberdayaan semua kita
.
.
Nosa,
Kau tidak salah. Kau hanya hidup.
.
Kujawab:
Kau yang salah
Aku tak hanya hidup
Aku membunuh hidup
Hanya untuk hidup
.
Binatang aku adanya!
.
Nosa,
Hanya kau adamu. Matilah kau bersamamu
.
Kujawab:
Tidak
Matilah kau bersamaku
Karena kau mencintaiku
,
.
.
.
Untuk semua orang yang mencintaiku…
Margonda, 2007
Sungguh aku merindukanmu
Garis wajah dan harummu
masih terasa di seluruh ruang
dan kaupun masih di sini,
.
Menemaniku, mengisi ruang hampa dengan udara
Persetubuhan, pergumulan, dan birahi yang terjeruji
oleh kekosongan pandangan masa kini yang ilusi
dan masa depan yang imajinasi
.
Dan sungguh aku merindukanmu
padahal ini bibir masih menyusu
dan ini keringat masih mengucur
dan harummu masih semerbak
.
Aku kehilangan
dan tak mampu lagi melihatmu
aku bercinta dengan boneka
yang kini tak jelas siapa
.
Jika kau merasakan sama
Kita sebenarnya binasa
mati merindu
merindu mati
.
Ketika kau tak di sini
Ganja kuhisap sendiri
dan Bob Marley Bernyanyi
"the love that is exist
is the love i can’t resist"
.
Aku merindukanmu
saat cinta tak mampu kutolak
.
Sungguh, aku merindukanmu
ingin mencintaimu dengan sungguh
.
Seandainya aku bisa melihatmu lagi
Kau, dan hanya kau yang kucintai
bukan perempuan yang memelukku kini
yang menyerahkan hatinya pada setan ini
.
Depok, 14 Nopember 2007
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
hidup
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekedar Pengingat Diskusi
Mabuk Bersama G.M. dan E.R.
Kau yang menggantungkan kata-kata pahit di leherku
Menarik tambang lusuh tiang gantungan di atasku
Kencangkan ikat leherku sekuat kau mengukir katamu
.
Nikmatnya kurasa kepahitan persenggamaan ini
Tanpa mantra tanpa tantra melebihi seumur hidup
Jika ini penyatuan terakhir maka rela aku mati
Tapi kumohon jangan biarkan hidupku redup
.
Niscaya ku kutuk kau dengan diksi-diksi buta
Seperti secarik peta fenomenologis Husserl
Atau turunan rumus-rumus fisika kuantum
Segala yang menawarkan kepastian semu
.
Kau dan aku maha kecil kata mereka
maka mati atau hidup kita tidak dihitung
Dan lebih baik memilih hidup
semata karena tidak ada ruginya
.
Kau dan aku maha kecil kata mereka
Apa kata semut, virus, bakteri, dan atom
Malu mereka dengan tuhan-tuhan mahakecil
yang hidup jauh lebih lama dari mereka
.
Maha kecil Maha tua Maha semesta
Itulah kita berdua
dan dalam sebuah senggama
Hidup adalah selamanya
.
Ikat kata-kata lebih erat di leherku
Tarik tambang lusuh itu lebih keras
Ikuti senandung nafas tenggorokkanku
Tark…Sin…Batz…in…Sas
.
—-Hari ini:
dedicated to S, K, and all the killers out there…My Gang Will Get You!
I see the girl and i want to kill her for being ugly
She was born when I was, and i hate her deeply
She has this dirty skin, weird bones and huge belly
O, God I want to throw her with the telly
Smack her head out, make brain jelly
She envy everything I have
All the boys crazy for my safe,
warm, juicy cave
Between their thoughts I left
My image, beautiful and brave
They’re dying to meet me
Taste my cunt out of me
Rape them they want me
Tease them they see me
I have only one problem
I haven’t give them my name
They fuck pseudo-me all the time
Satisfied as long as I’m no mime
Swallow the sound of my cunt
I drink the voice of their sperm
And to see them I can’t
For they will see you, germ!
I would like to kill you!
Ugly duckling think you?
Look at that face, you
are cursed to eternal blue
Forever look at that face,
those hands, that skin
that body, close case
I binds, eyes clean
Still I see you, in my mirror
crying silent, closing the door
will I see you, after the roar
of my knife eating you, boar!
Ugly, disgrace, inhuman, weirdo, pervert, girl!
if only killing you makes me, ME!
if only you’re never been born unto ME!
if only you are not…me
Margonda, morning 2007